Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ilmu Hadis, Sejarah dan Perkembangannya

Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah al-Quran. Posisinya sangat dipertimbangkan ketika seorang ulama hendak melakukan ijtihad dalam menggali hukum Islam, karena hadis dan al-Quran memiliki hubungan yang erat. Keduanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya, layaknya malam dan siang, bumi dan bulan, aku dan…ah sudah lah. 

Pada umumnya hadis kadang diartikan sebagai sesuatu yang bersumber kepada Rasulullah saw baik ucapan, perbuatan, sifat atau ketetapannya. Ada beberapa terma yang secara terminologi memiliki makna yang hampir sama dengan hadis, yaitu sunnah, khabar, dan atsar. 

Rasulullah saw sebagai objek utama kajian hadis pernah mewanti-wanti umatnya agar selalu berpegang teguh dengan hadis dan al-Quran, karena keduanya merupakan kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Melalui pesan yang amat penting inilah lahir perhatian besar dari para sarjana muslim dan akademisi untuk mendalami hadis. Mulai muncul karya-karya besar dalam bidang hadis, bahkan institusi-institusi khusus untuk mengkaji hadis. Oleh karena itu, penting dirasa untuk mengetahui sejarah perkembangan dan pertumbuhan ilmu hadis. Mungkin sudah banyak buku, jurnal, ataupun artikel yang membahasnya, tetapi tidak ada salahnya juga kita bahas disini. 

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya ilmu ulumul hadis. Dimungkinkan adanya dorongan agama sesuai informasi tersurat atau tersirat dari al-Quran dan sabda Rasulullah saw. Namun, ada juga yang mengatakan karena adanya dorongan sejarah, yang ketika itu terjadi konflik besar (al-fitnah al-kubra) di antara sesama muslim, sehingga banyak riwayat hadis yang tersebar guna memuji atau membersarkan nama kelompoknya. Selain itu, dikarenakan perkemabangan kritik periwayatan hadis. 

Dorongan Agama

Menurut para ahli dan peneliti bidang hadis, bahwa perintah penulisan hadis itu tersirat jelas dalam al-Quran dan hadis, baik yang sifatnya hanya sekedar anjuran atau kewaspadaan. Sebagaimana terekam dalam Qs. Al-Hujurat: 6, Qs. An-Nisa: 65.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Qs. Al-Hujurat:6)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Qs. An-Nisa:65)

Adapun yang berdasarkan pujian dari Rasulullah Saw berkenaan dengan menjaga hadis ialah: 

 قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : نضر الله امرأ سمع منا شيىأ فبلغه كما سمعه فرب مبلغ أوعي من سامع. وفى رواية فرب حامل فقه إلي من هو أفقه منه و رب حامل فقه ليس بفقيه (رواه الترميذي في كتاب العلم)

Rasulullah Saw bersabda: “Semoga Allah memperbagus (mengindahkan rupa) seseorang yang mendengar hadis dariku lalu menyampaikannya sesuai yang ia dengar. Betapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari orang yang mendengar”. Dalam riwayat lain “Betapa banyak orang yang paham agama menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih paham dan juga banyak pula orang yang menyampaikan agama tidak paham dengan yang disampaikan” (HR. Al-Tirmidzi dalam kitab al-Ilmi). 

Berlandaskan dalil-dalil normatif inilah maka para sahabat, tabiin dan tabiut’tabiin berlomba-lomba dalam menjaga hadis. Mereka berusaha menjaga keotentikan hadis dari sisi riwayah dan diroyah-nya. Tentunya dengan cara mereka masing-masing, baik dengan cara menghafal maupun menulisakannya pada lembaran-lembaran yang ada. 

Dorongan Sejarah 

Perkembangan penulisan ilmu hadis cukup panjang. Proses yang dilalui tidak secepat sekarang dalam mencari hadis yang serba instan dengan aplikasi-aplikasi terkait. Hanya tinggal mencari tema tertentu pada suatu aplikasi, maka akan didapati hadis-hadis yang sesuai tema. Tidak hanya itu, kualitas hadisnyapun dapat diketahui.

Pada zaman Rasulullah saw dikenal sebagai masa penurunan wahyu dan pembentukan masyarakat Islam (Ashr al-Wahy wa al-Takwin), sehingga menuntut keseriusan para sahabat dalam menyeleksi hadis dan al-Quran. Tidak heran jika pada masa ini ada larangan untuk melakukan penulisan hadis, karena khawatir tercampur dengan al-Quran yang masih berangsur-angsur turun. Larangan ini sangat terkenal di kalangan sahabat, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri:

لاتكتبوا عني غير القران ومن يكتبه فليمحه (رواه أحمد)

“Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dariku selain al-Quran, barang siapa yang telah menulisnya maka hendaklah ia menghapusnya” (HR. Ahmad)

Pelarangan Nabi secara implisit menunjukan adanya kekhawatiran akan tercampur baurnya catatan-catatan hadis dengan al-Quran. Di sisi lain, terdapat riwayat yang menyatakan bolehnya para sahabat untuk memiliki catatan-catatan pribadi tentang hadis. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Amr bin al-Ash dengan lembarannya yang diberi nama as-Sahifah al-Shadiqah. Hal ini bukan berarti mereka melanggar perintah Rasulullah saw, melainkan memang ada riwayat lain untuk menuliskan hadis yang diperuntukan kepada beberapa sahabat tertentu saja. 

Sebagaimana sabdanya yang dikutip Hasbi ash-Shiddiqy dalam Sejarah dan Pengantar Hadis, “Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran”.

Melalui dua riwayat yang terkesan kontradiksi ini, maka ada dua pandangan ulama dalam menyikapinya. Pertama, riwayat yang melarang penulisan hadis dinasakh dengan riwayat hadis yang mengizinkannya. Menurut mereka, pelarangan penulisan hadis terjadi pada awal-awal Islam karena dikhawatirkan adanya percampuran hadis dengan al-Quran serta untuk menjaga kemurnian al-Quran. Kedua, tidak ada pertentangan pada dua riwayat tersebut. Sebab larangan itu dikhususkan kepada para sahabat yang dikhawatirkan mencampur adukkan hadis dan al-Quran, dan memberikan keleluasaan bagi sahabat yang tidak ada kekhawatiran mencampur keduanya. 

Kemudian pada masa al-Khulafa al-Rasyidun (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) fokus perhatiannya masih pada pemeliharaan dan penyebaran al-Quran. Karena itulah periwatan hadis belum berkembang begitu pesat. Setelah meninggalnya sahabat Ustman bin Affan, lalu terjadi perselisihan di antara kaum muslimin. Akhirnya tersebar banyak hadis yang secara sengaja dibuat-buat untuk memuji atau membesarkan nama kelompoknya. 

Dalam Muqoddimah Shahih Muslim Ibnu Sirin pernah berkata: “Sebelumnya para sahabat jika menerima hadis tidak perlu menanyakan jalur periwayatannya (isnad), namun ketika terjadi fitnah (al-fitnah al-kubra), maka sebelum mereka menerima hadis akan berkata “Sebutkanlah kepada kami perawi kalian”. Jika hadis itu datang dari kalangan ahli sunnah maka diambil, tetapi jika datang dari ahli bid’ah maka ditolak”.

Berdasarkan kejadian itu, maka penerimaan hadis menjadi sangat selektif. Munculah pembahasan ilmu jarh wa ta’dil, ilmu pembahasan tentang perawi, ilmu untuk mengetahui ketersambungan atau keterputusan sanad, serta ilmu mengetahui kecacatan perawi yang tersembunyi. Setelah kajian hadis berkembang sebegitu cepat, akhirnya banyak muncul istilah-istilah hadis yang asing dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Hingga pada akhirnya lahir satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut ilmu ulumul hadis atau ilmu mushthala al-hadis pada abad ke 4 Hijriah. 

Seorang ulama yang membidangi lahirnya ilmu ini ialah al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan bin Abdil Rahman bin Khalad al-Ramahurmudzi yang wafat pada tahun 360H, dengan kitabnya yang berjudul al-Muhaddis al-Fashil baina al-Rawi wa al-Wa’i. Setelah itu, lalu banyak bermunculan kitab ulumul hadis seperti kitab Ma’rifah Ulumil Hadis karya Muhammad bin Abdillah al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifati Ulumil Hadis karya Ahmad bin Abdullah al-Asbahaniy, al-Kifayah fi ‘ilmi al-Riwayah dan al-Jami’ Liakhlaqi al-Rawi wa Adabi al-Sami’ karya al-Khatib al-Baghdadi, al-Ilma’ Ila Ma’rifati Ushul al-Riwayah wa Taqyidi al-Sima’i karya ‘Iyadh bin Musa al-Yahsuni, Ma La Yasa’u al-Muhadisu Jahluhu karya Abdul Majid al-Mayanaji, Ulumil Hadis karya Ibnu Shalah dan karya-karya lainnya. 

Rafif 
(Penikmat Kopi)

Sumber Bacaan: 
Taisir Musthalah al-Hadis, Dr. Mahmud Thahan
Kuliah Online via Yutube Dr.Sarbini Damai M.Ag

Post a Comment for "Ilmu Hadis, Sejarah dan Perkembangannya"