Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antara Hatimu Dan Hatiku

Manusia merupakan makhluk yang diberikan identitas istimewa oleh Allah Swt, yaitu dengan diberikannya akal dan nafsu. Orang yang sanggup mengikuti akal sehatnya dan mencegah seruan nafsunya, maka ia seperti malaikat yang mulia. Namun sebaliknya, jika kehidupan seseorang hanya pasrah mengikuti ajakan hawa nafsunya yang kadang mendorong kepada perbuatan buruk, maka tak ubahnya seperti hewan, bahkan bisa lebih hina dari padanya. 

Akal dan nafsu merupakan dua komponen yang saling berpengaruh dalam diri seseorang. Sebab, sadar maupun tidak sadar, keduanya akan mempegaruhi perbuatan seseorang. Untuk dapat mengendalikan keduanya agar bisa selaras sesuai syariat Islam adalah dengan membenahi kesucian hati. Sebab, hati adalah pengendali dalam diri seseorang. Seseorang akan menjadi baik jika hatinya sehat, begitu juga seseorang bisa menjadi buruk jika hati orang tersebut terkena penyakit hati atau bahkan hatinya telah mati.

Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi para prajuritnya, semua akan bekerja berdasarkan perintah dan larangannya. Karena bisikan hatilah seseorang dapat istiqomah atau bahkan menyeleweng dari visi misinya. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah saw.  :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.”(HR. Al-Bukhari:50)

Perumpamaan hati adalah raja sangatlah tepat. Sebab, komando utama dalam menjalankan seluruh anggota tubuh adalah bermuara dari hati. Segala konsekuensi, akan diterima seseorang jika sudah memantapkan hatinya untuk mengambil sebuah keputusan. Tak heran, jika dikemudian hari hati akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt., terhadap seluruh anggota badan yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, penyucian jiwa demi membersihkan kotoran-kotoran hati sangatlah penting untuk diseriusi oleh orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah Swt.

Secara garis besar, hati terbagi menjadi tiga macam, yaitu: hati yang sehat, hati yang mati, dan hati yang sakit. Pertama, hati yang sehat ialah hati yang selamat. Sebagaimana informasi yang telah diberitahukan oleh Allah dalam al-Qur’an: 

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٍ سَلِيمٍ  

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Qs. Ash-Shu’ara[26]:88-89)

Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah swt., dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Lebih jelasnya ialah hati yang hanya beribadah kepada Allah swt, dan berhukum kepada syari’at Allah dan Rasul-Nya, segala bentuk peribadahan hanya ditunjukan kepada Allah. Baik iradah, mahabbah, khasyyah, dan raja’ semua dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah swt. 

Semua perbuatannya dilandaskan kepada perintah dan larangan  Allah serta Rasul-Nya, jika ia mencintai maka cintanya itu berlandaskan kacamata yang dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya, jika ia membenci maka rasa bencinya ia berdasarkan kacamata Allah dan Rasul-Nya, segala tindak-tanduk selalu mempertimbangkan perintah dan larangan-Nya, ia tidak berani bersikap lancang, mendahului dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkannya. Sebab, ia tahu akan firman Allah swt:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Qs. Al Hujurat[49]:1)

Kedua, hati yang mati ialah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya, bahkan sampai tidak mau menghadirkan sesuatu yang dicintai-Nya dan diridlai-Nya. Hati seperti ini selalu berjalan bersama hawa nafsu demi menikmati kesenangan duniawi, walaupun hal itu dibenci oleh Allah swt. Baginya tidak peduli akan amarah dan murka Allah swt., sebab yang yang paling utama adalah mengikuti kehendak nafsunya. 

Jika ia mencinta, membenci, memberi dan menahan diri, semua berlandaskan hawa nafsunya semata. Hawa nafsu telah menguasainya, sehingga apa yang dilakukannya jauh dari rasa pertimbangan Allah dan Rasul-Nya, seperti dalam kehidupan sehari-hari, seluruh daya dan upaya hanya dikerahkan untuk mengejar target-target duniawi, tanpa adanya niatan untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Kita berlindung kepada Allah swt. terhadap hati yang mati, sebab secara tidak langsung kedudukan hati ini sama saja seperti orang yang telah dilupakan mengenal Allah swt.

Ketiga, hati yang sakit ialah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Dalam menjalankan hari-harinya ia akan cenderung kepada unsur yang paling kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kehidupan” dan kadang-kadang ia cenderung kepada “penyakit”. Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah, yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula terdapat kecintaan, ketamakan terhadap syahwat, hasad(iri), kibr(sombong) dan sifat ujub yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Posisi hati ini berada di antara dua penyertu; penyeru kepada Allah, rasul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidipan duniawi. Seruan yang akan duluan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab. 

Demikianlah hatimu dan hatiku, jika hatimu dan hatiku memiliki kriteria yang pertama, maka beruntunglah. Sebab hatiku dan hatimu merupakan hati yang hidup, khusyu’, tawadhlu’ dan selalu berjaga. Namun, jika kita menempati posisi yang kedua, maka berlindunglah kepada Allah swt., sebab ia adalah hati yang mati dan gersang. Oleh sebab itu, paling tidak kita berada pada posisi yang ketiga, yaitu hati yang sakit. Kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan. Untuk selalu dekat dengan keselamatan maka diperlukan suplemen-sumplemen tertentu, seperti berdzikir saat dalam kondisi apapun dan berbuat amalan shalih yang dapat mempertebal keimanan kita. 

Rafif (Penikmat Kopi)

Sumber bacaan: Tazkiyah an-Nafs (diterjemahkan oleh Imtihan Asy-Syafi’i), kumpulan tulisan Ibnu Qoyyim, Ibnu Rajab dan Imam al-Ghazali.





Post a Comment for "Antara Hatimu Dan Hatiku"