Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Academic Writing dan Kiat Untuk Mencapainya

 

Menulis ilmiah bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Kurangnya literasi ditambah rasa malas yang muncul membuat kebuntuan ide yang akan menjadi sebuah bahan tulisan. Terkadang, ketika sudah banyak ide di kepalapun masih kesulitan untuk meramu sebuah kata demi kata sehingga menjadi narasi yang apik dari kalimat yang saling berkesinambungan.

Bagi sebagian yang lain, menulis akademik atau ilmiah bukan pekerjaan yang susah. Hal ini ditengarai oleh kebiasaan kuat dalam membaca, memahami sebuah teks sehingga dapat menjelaskannya, baik secara lisan maupun tulisan. Tidak dipungkiri bahwa perbendaharaan kata yang didapat dari seringnya membaca adalah salah satu faktor kuat seseorang dapat menulis dengan baik. 

Berdasarkan pengalaman yang didapat ketika mengikuti kegiatan webinar dengan tajuk Academic Writing, memberikan pemahaman bahwa kegiatan menulis itu merupakan salah satu tanggung jawab akademik bagi seorang sarjana. Keilmuan yang tidak hanya berhenti pada gelar di atas ijazah dapat mengikat ilmu dan men-dawam-kan amal melalui tulisan. 

Berbicara tentang menulis, coba bayangkan pada keseharian kehidupan sesorang. Bagaimana jika pesan-pesan singkat Whatsapp, status di media sosial  mulai dari facebook, instagram, twitter dan ragam aplikasi lainnya itu dikodifikasikan menjadi satu tulisan utuh. Mungkin berbagai macam curhatan di media sosial itu bisa menjadi sebuah narasi yang apik bahkan dapat dijadikan karya yang bisa dibaca dan menginspirasi orang lain.

Sayangnya, terkadang sebagian orang menganggap bahwa media sosial adalah media sosial pada umumnya, yakni tempat mengeluarkan segala bentuk unek-unek dari A-Z, menghujat orang lain, mencari hiburan haha-hihi, atau bahkan tempat penyaluran latah dari korban grup-grup anggota keluarga yang membagikan informasi tidak valid dan tidak jelas sumbernya. 

Supaya tidak terlalu jauh, langsung saja. Ada beberapa hal yang bisa dicoba oleh para pembaca yang budiman agar dapat memulai menulis. Ini disarikan oleh penulis dari hasil webinar yang diisi oleh Hasse Jubba, doktor dalam kajian agama dan lintas budaya yang juga aktif di kegiatan Kertagama Global Academia (KGA) Yogyakarta. 

Pertama, perlu adanya penekanan pada diri sesorang kenapa dirinya menulis. Hal ini menunjukkan pentingnya tujuan dari menulis itu sendiri. Orang yang menulis karena hobi tentu akan berbeda dengan orang yang menulis karena hanya tuntutan tugas dari kampus. Dalam rangka diseminasi ilmu orang juga bisa menulis, namun akan berbeda juga dengan orang yang menulis dikarenakan ingin mencapai suatu derajat tertentu. 

Tujuan dan niat menulis itu akan berimplikasi pada kuantitas dan kualitas penulisan. Tidak ada yang salah, masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, tapi konsistensi dalam kegiatan tulis-menulis akan berbeda dari masing-masing tujuan dan niat tersebut.  

Kedua, apa yang ditulis?. Dikatakan bahwa penulisan ilmiah itu hasil dari pengembangan sebuah artikel-artikel sederhana. Tidak ada sebuah karya ilmiah yang ujug-ujug bisa ada tanpa sebuah draf dan catatan-catatan kecil. Oleh karena itu, biasakan untuk membuat catatan atau draf dari apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, mulai dari apa yang dilihat, didengar dan dibaca. Semua itu merupakan bahan-bahan yang bisa ditulis, sehingga suatu saat dapat dikembangan menjadi sebuah karya ilmiah yang baik.

Ketiga, apa yang harus dilakukan?. Pertanyaan ini bagian dari tahapan setelah seseorang mendapatkan bahan untuk dijadikan sebuah karya ilmiah. Fokus adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Sebagian orang ketika hendak menulis dengan ide yang luar biasa membanjiri otak, terkadang tidak membatasi bahasan dalam tulisan sehingga kurang fokus yang dapat menyebabkan kebuntuan dalam penulisan dan juga membingungkan pembaca.

Batasan bahasan menjadi hal yang penting dalam rangka untuk membuat sebuah kerangka tulisan. Ini akan mempermudah proses penulisan dengan rencana penulisan yang baik. Dimulai dari dua hal, yaitu langkah-langkah untuk mencapai tujuan penulisan dan membuktikan ketercapaian tujuan tersebut.

Keempat, selain dari ketiga poin di atas, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi dalam menulis sebuah karya ilmiah. Adapun yang dimaksud adalah bagaimana agar karya ilmiah itu bisa membuat seseorang tertarik dan penasaran untuk membacanya. Di sini merupakan kegiatan yang mungkin sangat menentukan proses kelancaran penulisan, juga hasil akhir dari karya ilmiah itu sendiri. 

Kegiatan itu dimulai dari mencari topik yang aktual, menarik dan banyak diminati. Kemudian tentukan masalahnya, pastikan bahwa masalah yang ada itu betul-betul menjadi problematika, dieksplorasi sekaligus berikan jawaban dari setiap masalah yang ada. Tidak hanya itu, pastikan juga jawaban yang diberikan benar-benar menjawab pertanyaan dari setiap masalah. Selanjutnya adalah uraikan secara tuntas apa yang telah ditetapkan untuk dikaji. Langkah terakhir, yakni jamin bahwa ulasan yang diberikan dapat dibaca, relevan dan tidak membingungkan.

Kelima, aspek yang ditulis. Demi teracapainya sebuah masalah, maka perlu adanya sebuah pengamatan yang jeli dari suatu peristiwa. Suatu peristiwa dielaborasi secara mendalam proses terjadinya, faktor yang memicunya dan dampak dari sebuah persitiwa itu. Jika ini dilakukan dengan baik, maka akan membuat kagum orang yang membacanya.

Keenam, poin terakhir ini berkaitan dengan teknis penulisan, yaitu outline sebuah karya ilmiah. Susun sebuah karya ilmiah terdiri dari abstrak, pendahuluan (introduction), metode, hasil dan diskusi, simpulan, referensi. Sistematika penulisan ini akan membuat sebuah tulisan menjadi enak dibaca dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak lupa ada hal penting untuk diperhatikan ketika hendak menulis. Hindari memulai paragraf dengan kalimat mati. Contoh: “Sila kesatu Pancasila adalah ketuhanan yang Maha Esa”. Pakailah kalimat hidup yang akan memberikan peluang penjelas di kalimat setelahnya. Selain itu, jauhi juga penggunaan kalimat yang tidak jelas sehingga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Contoh: “Sebagaimana yang kita tahu”.

Demikian apa yang menjadi kiat-kiat dalam kegiatan tulis menulis, khusunya menulis karya ilmiah. Semua aspek tersebut nihil tercapai jika seseorang tidak mempunyai pengalaman ilmu pengetahuan dari mulai mendengarkan guru, membaca, memahami dan mengulangi (murojaah). Pun begitu dengan orang yang mempunyai pengalaman ilmu pengetahuan akan kehilangan ilmunya jika tidak dibarengi dengan kegiatan menulis untuk mengikatnya. 

Post a Comment for "Academic Writing dan Kiat Untuk Mencapainya"