Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menuntut Ilmu Harus Dengan Niat

Dikutip oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyatu Thalib Al-'Ilmi dari kitab Fatawa karya Ibn Taimiyah bahwa seorang ulama berkata, "Ilmu itu adalah salat yang tersembunyi dan ibadahnya hati". 

Oleh karena itu, syarat ibadah itu adalah:

1. Mengikhlaskan niat karena Allah, berdasrkan firman-Nya, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (Al-Bayyinah [98]: 5).

Dalam hadis ahad yang masyhur, dari Amirul Mukminin, Umar bin Al Khaththab, bahwasnya Nabi saw bersabda: 

"Sesungguuhnya amalan-amalan itu tergantung dari niat..."

Jika ilmu telah kehilangan keikhlasan dalam niat, maka ia pasti berpindah dari ketaatan yang paling utama menjadi kedurhakaan yang paling buruk. Tidak ada yang paling dahsyat dalam menghancurkan ilmu daripada riya, baik riya syirik maupun riya ikhlas juga sum'ah, misalnya mengatakan dengan nada sum'ah, "Aku sudah tahu ini dan hafal ini..."

Oleh karena itu, harus bisa menghindar dari segala sesuatu yang bisa mengotori hatimu dalam ketulusan menuntut ilmu, seperti ingin menonjolkan diri, merasa di atas teman-teman, menjadikan ilmu sebagai batu loncatan untuk menggapai ambisi dan kekayaan, baik jabatan, harta, penghormatan, keterkenalan, pujian, atau agar dilihat orang lain.

Jika semua itu sudah mengotori niat dalam menuntut ilmu, niscaya ia akan merusakkan dan menghilangkan keberkahan ilmu. Oleh karena itu, harus betul-betul menjaga niat dari cemaran-cemaran keinginan kepada selain Allah serta menghindari hal-hal yang mengantarkan kepadanya.

Para ulama melarang dari ath-Thubuuliyyat, yaitu perkara-perkara yang dimaksudkan untuk mencari popularitas.

Dari Sufyan rahimahullah, dia berkata, "Aku dikaruniai kepahaman terhadap al-Quran, lalu ketika aku menerima shurrah (hadiah dari penguasa), maka kepahaman itu dicabut dariku."

Dalam rangka untuk menjaga diri dari hal-hal yang buruk itu, maka perlu berpegang teguh kepada tali agama Allah, yang dapat melindungi dari segala kotoran. Usaha yang perlu dilakukan adalah sekuat tenaga mengupayakan keikhlasan, memiliki rasa takut yang besar dari pembatal keikhlasan, kemudian merasa membutuhkan dan meminta perlindungan kepada Allah.

Diriwayatkan dari sebuah atsar dari Sufyan bin Sa'id Ats-Tsauri Rahimahullah bahwa dia berkata, "Tidakkah aku memperbaiki sesuatu yang lebih sulit daripada memperbaiki niatku."

Dari Umar bin Dzar bahwasanya dia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, mengapa jika engkau menasihati orang-orang, mereka bisa menangis sedangkan jika orang lain menasihati mereka, mereka tidak menangis? Ayahnya menjawab, "Wahai anakku, ratapan wanita yang ditinggal mati anaknya tidaklah sama dengan wanita yang diupah untuk menangis. Semoga Allah menunjukimu jalan yang lurus.

2. Sifat yang menggabungkan dua kebaikan, dunia dan akhirat: yaitu kecintaan kepada Allah swt dan kecintaan kepada Rasul-Nya saw. Realisasinya adalah dengan cara mengikuti secara tulus ajaran dan jejak beliau yang maksum.

Allah swt berfirman: 

"Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu..." (Ali Imran [3]: 31)

Ringkasnya adalah bahwa landasan yang perlu dimiliki yaitu kedua hal di atas (ikhlas kepada-Nya dan kecintaan yang diwujudkan dengan mengikuti jejak Rasul-Nya) yang mempunyai kedudukan laksana mahkota dari pakaian kebesaran

Sumber:
Kitab Hilyatu Thalib Al-'Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid

Post a Comment for "Menuntut Ilmu Harus Dengan Niat"