Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kekayaan Membuat Orang Bahagia atau Pura-pura Bahagia? Begini Menurut Islam!

Dinamika kehidupan di dunia merupakan sebuah hal yang pasti akan dilalui oleh setiap manusia. Banyak yang menjadikannya bahagia, hidup penuh kenikmatan dan sejahtera, tapi tidak sedikit juga yang merasakan kesusahan, hening, sunyi sehingga hidup bagaikan tiada arti

Kebahagiaan adalah hal yang banyak dicari oleh orang. Demi mencapainya terkadang manusia justru menjadi tidak bahagia. Kenapa seperti itu? Apakah kebahagiaan memang bukan menjadi hak semua manusia. Apakah bahagia hanya berlaku bagi orang yang bergelimang harta saja? 

Alasannya karena banyak orang mencari kebahagiaan, padahal kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya. Kebanyakan orang mencari sumber kebahagiaan, tidak membuat bahagia itu sendiri."Naif kamu!, Sudah jelas bahwa bahagia itu karena harta, bukan karena yang lain, sebab dengan harta bisa membeli dan membuat apa saja yang disenangi sehingga akan muncul rasa bahagia." Benar juga, apa yang berada dalam kalimat tersebut, tapi apakah benar demikian adanya?

Jika harta dan materi benar-benar dapat membuat bahagia, mengapa masih ada orang-orang kaya, selebritis, bahkan pejabat yang putus asa sehingga tega mengakhiri hidupnya sendiri?. Kemudian bagiamana jika kekayaan yang dipunya tidak bisa menyembuhkan dirinya dari penyakit. Kaya raya tapi hidup dengan dirundung penyakit tiada akhir. Apakah masih bisa bahagia? Atau hanya pura-pura bahagia dengan kenikmatan yang semu?. Lantas apa dan bagaimana kebahagiaan sejati itu? 

Bahagia dalam islam adalah syukur, sabar dan istighfar. Kebahagian yang sejati itu adalah bahagia di dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang tidak hanya bisa membawa kesejahteraan di dunia tapi juga bisa membawa kedamaian di akhirat. Menurut syaikh Ibn Qoyyim Al Jauziyah dalam Kitab Tazkiyatun Nufus, orang dikatakan bahagia jika ada 3 hal tersebut dalam dirinya.

Syukur 

Jika bersyukur maka akan ditambah nikmat-Nya, jika kufur maka ingat bahwa adzab Allah itu sangat pedih, begitu kalam Allah menjelaskannya. Setiap saat ketika sedang bersyukyur, sejatinya itu sedang menambah nikmat yang sedang dirasakan. Bersyukur merupakan kunci atas pintu kenikmatan yang lainnya. Tunggu saja jutaan nikmat yang lainnya yang akan datang, baik disadari atau tidak oleh manusia.

Syukur meliputi 3 hal yakni pertama, meyakni bahwa segala hal yang didapatnya adalah merupakan karunia dan kehendak Allah. Tidak merasa semata-mata karena usaha dan kerja kerasnya. Bila hal ini terdapat pada sesorang, maka orang tersebut akan terjauh dari sifat sombong dan congkak. Tidak akan merendahkan orang lain, yang itu merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan. Mereka paham bahwa segala daya dan upaya tidak akan membuatnya berhasil jika Allah tidak membuatnya mendapatkannya. 

Kedua, mengucapkan kesyukuran dengan melakukan pujian terhadap sang Maha Pemberi Nikmat. Lisan yang bersyukur tidak akan jauh dari tahmid, tasbih, tahlil, dan takbir. Lisan yang akan malu dari mengucapkan hal-hal yang buruk, padahal ribuan nikmat sudah dirasakannya.

Ketiga, memberitahukan kabar gembira kepada yang lainnya atas karunia nikmat yang didapatnya. Bukan dalam rangka untuk pamer atau pamrih, tapi dalam rangka berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Berbagi ini bisa dengan banyak cara mulai semacam mengajak makan, memberikan santunan ataupun kontribusi tenaga atau pikiran. Selain itu, jika kebahagiaan itu dikabarkan akan mendorong orang lain untuk mendoakan atas nikmat yang ada, sehingga kebahagiaan itu semakin barokah dengan memberikan kebermanfaatan yang lebih luas lagi.

Inilah kebahagiaan yang sejati, bukan pura-pura bahagia, tapi bahagia dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Kenapa demikian? Karena sekecil apapun karunia yang didapat dia bersyukur, secuil apapun nikmat yang dirasakan tetap bersyukur. Sehingga tidak sibuk memikirkan kebahagian orang lain yang bisa menimbulkan sifat iri dan dengki pertanda ciri orang tidak bahagia.

Sabar

Setiap musibah yang menimpa harus disikapi dengan sabar. Sabar tidak cukup dengan tidak melakukan apa-apa atau pasrah bongkokan. Sabar berarti menahan dari segala nafsu yang bisa membuat diri bersikap menjadi tidak terkendali dan cenderung kepada perbuatan yang tercela.

Hanya orang mukmin yang setiap perkaranya itu mengagumkan. Jika ia mendapat musibah ia sabar dan kesabarannya itu baik untuknya, sebaliknya jika ia mendapat nikmat maka ia bersyukur dan syukurnya itu baik baginya. Musibah yang dikendalikan dengan sabar akan membawa kebaikan pada dirinya, kebaikan yang akan menjauhkan dari perbuatan yang buruk. Kenikmatan yang datang jika disikapi dengan rasa syukur akan membawa kebaikan baginya. Kebaikan yang akan menuntunnya kepada ketaatan kepada Allah dengan apa yang dimilikinya.

Oleh karena itu, sabar itu ada tiga hal: pertama, sabar untuk tidak merasa jengkel atas takdir Allah yang menimpanya. Tidak menyalahkan Allah, tidak menganggap Allah tidak adil dan perasaan tidak suka atas apa yang sedang terjadi padanya. Kedua, sabar untuk menahan bibir agar tidak mengatakan kata-kata kotor yang menjelekkan takdir Allah. Ketiga, sabar menahan dari segala bentuk dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang Allah larang, yakni bermaksiyat kepada Allah. 

Dari tiga unsur sabar itu, akan menjaga kita dari penyakit hati yang akan muncul dari mulai emosi, dendam, iri dll. Sehingga dengan tidak ada penyakit hati, maka manusia akan merasa lebih ringan dalam menghadapi segala halnya. Meskipun musibah datang silih berganti, dia tetap menjalani kehidupan layaknya orang tak mempunyai beban, karena dengan sifat sabarnya Allah membersamainya. Allah bersama orang-orang yang sabar, sehingga dengan kesabarannya, segala apa yang sedang dihadapinya sebesar apapun itu akan tampak kecil karena Allah yang Maha Besar bersamanya

Istighfar

Kemudian yang terakhir adalah istighfar. Istighfar merupakan ciri orang yang bisa dikatakan bahagia. Setiap pengakuan dan tekad yang baik untuk memperbaiki diri adalah merupakan tanda bahwa dia siap untuk melepas beban masa lalunya dan siap juga untuk menyongsong masa depan. Kebanyakan manusia adalah sering terlena dan tergoda dengan gemerlap dunia yang sangat menjerumuskan. Nafsu yang tidak dibentengi dengan banyak ibadah akan menjebol dinding-dinding rasa malu. 

Setelah sadar bahwa apa yang dilakukan telah merugikan banyak pihak, baik diri sendiri maupun orang lain. Kemudian hanya penyesalan lah yang datang menjadi penyempurna atas segala kehancuran yang ada. Alih-alih bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik, malah semakin dirundung dengan penyelasan dan dihantui dosa-dosa masa lalu.

Istighar adalah kunci untuk meluruhkan segala perasaan putus asa yang menyababkan hidup tidak tenang dan selalu dihinggapi rasa bersalah. Menyesal, merendah, menghiba di hadapan Allah adalah bentuk kepasrahan untuk berusaha menghabiskan kesedihan dan memulai untuk menata kembali kehidupan. Membawa tekad untuk lebih taat dengan tidak mengotori hati dengan maksiyat.

Semua hal itu akan membuat orang manjadi bahagia lahir dan batinnya. Tidak sibuk melihat ke atas, tapi banyak untuk melihat kepad diri sendiri dan ke bawah agar tahu bahwa kita banyak nikmat yang dirasakan. Segala halnya dilalui dengan ceria dan positive thinking. Apa yang menjadi tantangan di depan jika ada sedikit tersandung maka langsung banyak istighfar dan mohon kepada Allah.

Post a Comment for "Kekayaan Membuat Orang Bahagia atau Pura-pura Bahagia? Begini Menurut Islam!"