Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bagaimana Hidup Tenang Di Tengah-tengah Kesulitan

Keyakinan sesorang terhadap Tuhannya adalah indikator keimanannya, sedangkan respon akal terhadap keyakinan adalah indikator kelimuannya. Kedua hal tersebut menjadi saling berhubungan, sama-sama letaknya yang tidak terlihat oleh mata, namun dua unsur ini yang menjadi inti dari kehidupan sesorang.

Seseorang yang hidup dengan penuh keyakinan kepada Tuhannya maka dia akan merasakan ketenangan dalam hati. Kesulitan, sakit, bahkan bahaya yang sedang dialaminya tidak akan menjadikan masalah yang besar kecuali hanya secuil. Mengapa demikian? karena apa yang telah menimpa kepada dirinya sudah diyakini bahwa itu semua kehendak Allah swt. Maka ridho adalah langkah awal yang akan membawanya pada satu kemudahan yang sudah Allah swt siapkan.

Kemudian akal menjadi tali ikatan yang memberikan stumulus berupa realita, bukti-bukti hingga hikmah yang akan menambah keyakinan hamba kepada sang Kholik. Akal yang akan keseimbangan bagi dada seseorang. Jika keyakinan dalam hati sesorang dominan dengan mengabaikan realitas yang ada, maka hal tersebut bertolak belakang dengan pertanyaan Allah berupa sindirian “Afala Ta’qiluun, Afala Tatafakkarun” yang menuntut kita untuk berfikir dan merenung.

Meskipan padanan kalimat tersebut mempunyai makna dan konteks peristiwa yang berbeda dalam ayatnya masing-masing, tapi bila dikembalikan pada arti teks berarti “Tidakkah kamu berfikir, tidakkah kamu memikirkan”. Itu artinya menuntut manusia untuk melihat, mencari tahu dan memikirkan setiap apa yang sudah diturunkan berupa firman dan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang merupakan domain akal.

Kesulitan yang sedang dihadapi oleh beberapa negara termasuk Indonesia, membuat kesedihan dimana-mana. Sakit, perpisahan, kehilangan, kelaparan, ketakutan menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari. Wajarnya manusia akan merasakan itu dalam dadanya. Mencari perlindungan, tempat yang aman, menyimpanan makanan adalah hal yang pasti dilakukan cepat atau lambat. Tidak hanya itu, berkumpul dengan keluarga adalah hal yang sangat dirindukan dan berharga sekali. Realitanya selain banyak yang pulang, ada pula yang tetap bertahan berjauhan dari keluarga dikarenakan banyak alasan yang menjadi pertimbangan.

Disituasi yang sedang sulit ini, di tengah-tengah ketidakberdayaan, disaat manusia mempuyai keterbatasan, kemana lagi hendak pergi mencari perlindungan?. Bagi orang yang beriman tidak akan susah menemukannya, hanya Allah swt tempat kembali, menghamba, merendah dan mengharap ampunan dan pertolongan karena Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS. Al-Anfaal: 64)

Orang dengan keyakinan yang kuat terhadap Allah disertai penggunaan akal maka akan melahirkan manusia yang tidak mudah tumbang meski banyak dirundung kesulitan. Allah swt menenangkan hatinya, jauh dari gelisah dan khaawatir, akalnya senantiasa untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga apa yang dihadapannya terlampau kecil jika dia bandingkan dengan Allah swt.

Post a Comment for "Bagaimana Hidup Tenang Di Tengah-tengah Kesulitan"