Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indonesia Negeri Para Perasa


Gotong royong merupakan budaya Indonesia. Jiwa tolong menolong ini menjadikan persatuan dan kebersamaan dalam mewujudkan kemerdakaan Indonesia. Perjuangan diserukan untuk melawan penjajah yang menjadi musuh bersama.

Mengingat-ingat literatur yang sudah bertebaran, dari dongeng masa kecil hingga materi dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah mengatakan bahwa, kemenangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan adalah bukan karena kecanggihan alutsista yang dimiliki Negera ini. Kemenangan itu diraih dengan perjuangan rasa tak ingin diajajah dan rasa tak ingin diperbudak. Keberanian tak takut mati demi melindungi saudara setanah air, membuat mental mereka menjadi seperti tameng-tameng baja, sehingga dengan gerilya menjadikan alat yang membuat “radar” dan senjata musuh menjadi bingung. Membayangkan hal itu, sejenak berfikir bahwa, “Negeri ini bukan dihuni oleh orang-orang yang pintar”. Kalau memang orang-orang pintar menghuni Negeri ini, maka tidak sulit bagi Indonesia untuk menjadi Negara maju. Negara yang mempunyai kemajuan ilmu dan teknologi, apalagi dengan penduduk Negara yang cukup besar. Pada kenyataannya, Negeri ini diduduki oleh kebanyakan orang-orang yang mempunyai tingkat solidaritas yang tinggi.

Solidaritas terhadap kesamaan suatu hal menjadi alat yang dapat membangun kekuatan tersendiri. Mulai dari peristiwa pengusiran penjajah, reformasi, demokrasi, bahkan dengan solidaritas bisa membuat “tersangka menjadi pendakwa”. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya rasa sakit yang sama bisa membuat persekongkolan untuk mengalahkan musuh bersama. Namun, persekongkolan tersebut terkadang digunakan bukan untuk tujuan yang benar.
Melihat fenomena saat ini, kemudian berfikir kembali, “Apakah Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai common enemy?”. Setelah mulai merebaknya virus itu dan meningkatanya jumlah kasus pasien positif di Indonesia, masyarakat Indonesia yang semula acuh tak acuh, sekarang mulai merasakan ketakutan dan panik. Rata-rata kematian diangka 8% menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan tingkat resiko kematian yang tinggi.

Selain itu, kurangnya kesiapan Negara, rumah sakit dan tenaga medis semakin membuat sebagian masyarakat khawatir. Kelangkaan masker, hand sanitizer dan tidak adanya Alat Pelindung Diri (APD) disejumlah rumah sakit baik pusat maupun daerah juga menjadi kendala yang sulit. Apalagi ditambah masyrakat yang belum ter edukasi dengan baik akan menambah persolan, bahkan menghambat proses penghentian penularan Covid-19.

Ditengah badai yang merundung, disaat itulah mulai muncul rasa solidaritas antar sesama. Status-status di sosial media yang memperlihatkan perjuangan para tenaga medis membuat orang-orang menjadi tergerak hatinya untuk saling bahu membahu, mengingatkan dan membuka donasi untuk bantuan baik kepada masyarakat maupun tenaga medis. Semua ego disingkirkan demi untuk berjuang melawan Covid-19.

Begitulah Indonesia, Negeri dengan penduduk yang berjuang dengan rasa, kebersamaan, “nyengkuyung” bareng-bareng. Penduduk yang cinta dengan “ibu”nya. Allah swt memang Maha tahu segalanya, untuk membuat baik hamba-Nya, Dia timpakan kesulitan terlebih dahulu sebagai media pembelajaran, kemudian manusia akan naik derajatnya setelah belajar dari apa yang sudah diberikan oleh Allah swt.

Post a Comment for "Indonesia Negeri Para Perasa"