Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum, Keadilan Untuk Semua atau Siapa?

Orang mukmin dituntut untuk bertindak adil. Keadilan yang diperintahkan oleh Islam kepada setiap individu mukmin untuk menegakannya adalah keadilan yang mutlak yang meliputi segala hal dan dalam segala kondisi dan situasi dimana setiap individu mukmin berada, baik seorang pengusaha atau rakyat jelata, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan wajib menegakannya. Bahkan jangan sampai keadilan itu terhalangi hanya karena ada setitik kebencian kita kepada sesama makhluk Allah SWT, karena sesungguhnya keadilan dapat menjadi ciri bagi orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْربُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah [5]: 8).

Ayat tersebut memberi peringatan dan pengarahan kepada orang-orang mukmin terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berlaku tidak adil, yaitu orang yang berusaha membuang jauh-jauh sifat amarah dan benci karena bila seseorang sedang marah atau ia menaruh rasa benci atau ada permusuhan diantara ia dengan salah seorang tergugat, sedang ia tidak mendasari hukumnya karena Allah, maka sudah barang tentu tidaklah dapat di jamin, bahwa dia akan dapat berlaku adil dalam hukum yang akan ditetapkannya.

Di ayat lain Allah juga menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا فَلَا تَتَّبِ الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa [4]: 135)

Sudah dikatakan bahwa keadilan itu harus ditegakkan kepada siapapun, bahkan kepada keluarga terdekat sekalipun. Jangan sampai mengikuti hawa nafsu sehingga bisa menghalalkan apa yang sudah menjadi ketentuan dari Allah. Namun, biasanya karena ada sebuah kepentingan, manusia cenderung bisa berbuat tidak adil. Menurut Rasulallah SAW orang tersebut adalah orang yang celaka. Sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا وَفِي حَدِيثِ ابْنِ رُمْحٍ إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ (رواه مسلم)

Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kalain celaka tak lain karena apabila di antara mereka ada orang yang terpandang mencuri mereka mengacuhkannya, sebaliknya bila kaum lemah yang mencuri mereka dengan tegas menghukumnya. Aku bersumpah demi Allah seandainya Fathimah putri Rasul, mencuri niscaya aku potong tangannya. (HR. Muslim)

Hadis di atas juga menjelaskan bahwa pesan agama yang harus diemban pihak penguasa, bagaimana produk hukum yang dihasilkannya dapat diterapkan secara adil sesuai asas persamaan. Dalam kaitan ini Islam sangat mengutuk berbagai bentuk parsialisme dan diskriminasi. Di depan hukum, semua manusia harus diberlakukan sama melintasi batas-batas ras, gender, kelas ekonomi, status sosial, ataupun bentuk-bentuk penyekat lainnya.

Namun pada kenyataannya di Indonesia masih banyak kasus ketidakadilan yang terjadi. Hukum yang masih tajam kebawah tapi sangat tumpul bila diberlakukan ke atas. Hukum tajam hanya diberlakukan bagi kaum-kaum yang lemah dan kaum yang sengaja dilemahkan. Tapi tumpul apabila hukum itu berhadapan degan orang-orang yang elit, orang yang mempunyai kekuasaan, orang yang bisa mengatur keadilan itu sendiri dengan memanfaatkan oknum-oknum penegak hukum yang tidak bertanggung jawab. Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islaman.

Padahal semua manusia mempunyai hak yang sama di mata hukum. Satu-satunya hal yang dapat membedakan satu sama lainnya adalah kualitas amal perbuatannya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paing bertakwa. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Setiap individu mukmin dilarang menekan satu golongan dari golongan yang lain, pribadi dari pribadi yang lain, sebab kemerdekaan milik semua manusia, bukan milik satu golongan atau seorang saja, setiap orang dibebani kewajiban dan pada saat yang sama memiliki hak tanpa beda.

Oleh karena itu, berdasarkan dari penjelasan ayat-ayat Al-Quran dan hadis di atas, seharusnya kita sebagai umat yang sudah berikrar bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT wajib menjunjung tinggi dan menegakkan keadilan dalam setiap sendi-sendi kehidupan kita. Apalagi kita sebagai khalifah Allah di muka bumi, seharusnya tidak membuat kerusakan dengan tidak berbuat adil terhadap sesama yang akhirnya akan menjadi umat yang celaka karena telah melanggar batasan-batasan Allah sehingga akan mengundang murka Allah.

Post a Comment for "Hukum, Keadilan Untuk Semua atau Siapa?"