Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibn Khaldun (Bagian 2)




4.    Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibn Khaldun
Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, ummat manusia telah mengenal berbagai ilmu yang berkembang yang dihasilkan dari waktu ke waktu sehingga terdapat banyak sekali macam ilmu yang dikenal dalam masyarakat. Dan hal ini pun tidak luput dari perhatian Ibn Khaldun  sebab bagi Ibn Khaldun, masalah ilmu pengetahuan dan pengajaran adalah merupakan salah satu gejala sosial yang khas insani. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berbagai macam itu mendorong cendekiawan muslim untuk mengkalsifikasikannya guna memelihara proporsi dan hirarki ilmu itu, dengan cara begini maka jangkauan dan posisi setiap ilmu di dalam kerangka total ilmu selalu bisa dilihat. Menurut Seyyed Hussain Nasr, bahwa:
“Klasifikasi Islam atas sains didasarkan pada hirarki, yang selama berabad-abad telah membentuk matriks dan latar belakang sistem pendidikan muslim. Kesatuan sains selalu merupakan intuisi utama dan sentral, yang menjadi tolak ukur bagi studi beragama sains ini”.
Dengan intuisi tentang kesatuan berbagai disiplin ini, maka sains dipandang sebagai ibarat cabang-cabang dari sebatang pohon yang tumbuh dan mengeuarkan daun dan buah sesuai sifat pohon itu sendiri, sebuah cabang tentunya harus tumbuh sesuai dengan batas tertentu dengan tidak mengkesampingkan kesimbangan pohon itu, demikian juga dengan suatu disipilin ilmu tidak selayaknya dipelajari melampaui batas tertentu yang melebihi kewajaran ilmu itu sendiri. Cendikiawan muslim abad pertengahan menganggap bahwa menuntut suatu cabang ilmu melampaui batas sebagai hal yang tidak berguna, malah dapat dikakatan sebagai suatu tindakan yang melanggar aturan, seperti halnya dengan sebuah cabang pohon yang tumbuh terus tidak terbatas tentu akan merusak keharmonisan pohon itu sebagai satu keseluruhan. Ibn Khaldun, salah seorang cendekiawan muslim abad pertengahan yang berusaha membuat pembidangan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang. Pembidangan atau klasifikasi ilmu yang dibuat Ibn Khaldun, ialah: Kelompok ilmu-ilmu yang sifatnya alamiyah bagi manusia, sedangkan yang lain adalah kelompok ilmu-ilmu yang bersifat tradisional (naqli). Yang pertama ialah ilmu-ilmu uang bisa ditemukan sendiri oleh manusia dengan kemampuan berpikirnya, sedangkan yang kedua berbeda dengan yang pertama karena tidak diperoleh dari kemampuan berpikir manusia, tetapi diperoleh dari orang yang merumuskannya.
a.    Ilmu-ilmu Falsafah dan Hikmah
Ilmu-ilmu yang sifatnya alamiyah bagi manusia atau ilmu-ilmu rasioanal tidak terdapat secara khusus pada suatu kelompok penganut agama tertentu, melainkan terdapat pada seluruh penganut-penganut agama secara keseluruhan dan mereka mempunyai persamaan danpersepsi dan pembahsannya. Ilmu-ilmu itu dinamakan juga ilmu-ilmu falsafah dan hikmah. Selanjutnya Ibn Khaldun membagi ilmu-ilmu rasional atau ilmu-ilmu falsafah dan hikmah itu dalam empat macam.
Yang pertama ialah logika (علم المنطق), yaitu ilmu untuk menghindari kesalahan dalam proses penyusunan fakta-fakta yang ingin diketahui, yang berasal dari berbagai fakta tersedia yang telah diketahui. Faedahnya adalah untuk membedakan antara yang salah dari yang benar berkenaan dengan hal-hal yang dikejar oleh para pengkaji segala yang ada beserta sifat-sifat tambahannya agar ia sampai pada pembuktian kebenaran mengenai alam semesta dengan menggunakan akalnya secara maksimal.
Yang kedua adalah ilmu alam (علم الطبيعي), yaitu ilmu yang mempelajari substansi elemental yang dapat dirasa dengan indera, seperti benda-benda tambang, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang yang diciptakan, benda-benda angkasa, gerakan alami dan jiwa yang merupakan asal dari gerakan dan lain-lainnya.
Bagian yang ketiga adalah metafisika (علم الالهيات), yaitu pengkajian yang dilakuakan terhadap perkara-perkara di luar alam, yaitu hal-hal yang sifatnya rohani.
Bagian yang keempat adalah studi tentang berbagai ukuran yang dinamakan matematika (Ta’limi). Bagian ini mencakup empat ilmu pengetahuan, yaitu ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu music, dan astronomi. Tentang ilmu ukur atau geometri, Ibn Khaldun mangatakan bahwa:
“Ilmu ukur...berupa pengakajian tentang ukuran-ukuran secara umum, baik yang terpisah-pisah karena ukuran itu bisa dihitung ataupun yang bersambungan, yang terdiri dari satu dimensi, yaitu titik; atau mempunyai dua dimensi, yaitu permukaan; atau tiga dimensi, yaitu ruang. Ukuran-ukuran itu dikaji, demikian pula sifat-sifat tumbuhannya”.
Sedangkan ilmu hitung/aritmatika adalah ilmu tentang apa yang terjadi pada angka terpisah, yaitu bilangan dengan memperhatikan ciri-ciri khususnya serta sifat-sifat tambahan yang melekat padanya. Ilmu music adalah pengetahuan mengenai hubungan suara-suara dan melodi-melodi satu sama lainnya serta pengukurannya dengan angka. Ilmu astronomi adalah ilmu yang menetapkan bentuk daerah angkasa, posisi dan jumlah planet dan bintang tertentu, dan dengannya memungkinkan mempelajari semuanya ini dari gerakan benda-benda di langit yang kelihatan terdapat di setiap ruang angkasa, gerakan-gerakannya, proses dan resesinya.
Itulah tujuh pokok-pokok ilmu falsafah dalam pembidangan yang dibuat Ibn Khaldun, yaitu logika yang merupakan pengantar baginya, dan setelah itu ialah ilmu-ilmu instruktif: pertama ialah ilmu hitung, kemudian ilmu ukur, kemudian astronomi. Ilmu-ilmu alam dan metafisika.
b.    Ilmu-ilmu Tradisioanl Syar’iyah
Pada kelompok yang kedua ini berbeda dengan ilmu-ilmu yang ada pada kelompok yang pertama, karena pada pembidangan yang kedua ini terdiri dari ilmu-ilmu yang tidak melibatkan akal manusia dalam memperolehnya, di sini tidak ada tempat bagi akal, kecuali untuk menghubungkan persoalan-perosalan detail dengan prinsip-prinsip dasar. Sumber asal ilmu pengetahuan naqli ini secara keseluruhan adalah ajaran kitab suci al-Quran dan sunnah
Rasulullah saw. Menurut Ibn Khaldun, jenis ilmu-ilmu naqli ini banyak, dan adalah tugas bagi setiap mukallaf untuk mengetahui hukum-hukum Tuhan yang di fardhukan kepadanya. Perincian ilmu-ilmu naqli ini adalah seabagi berikut:
-    Al-Quran dan tafsirnya serta qiraatnya.
-    Ilmu-ilmu hadis dan mata rantai periwayatnya.
-    Ushulul fiqih dan fiqih.
-    Ilmu kalam dan Ilmu Tasawuf.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan diatas. Maka dapat kita simpulkan, bahwa:
1.    Menurut Ibn Khaldun, ilmu pegetahuan dan pengembangannya adalah suatu gejala sosial yang khusus dilakukan oleh makhluk manusia, hal itu adalah sebagai konsekuensi daripada kemampuan berpikirnya yang dimilikinya.
2.    Menurut Ibn Khaldun, ilmu-ilmu yang berbagai macam itu, pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi dua macam. Yang pertama adalah ilmu-ilmu yang sifatnya alamiyah bagi manusia yang disebut sebagai ilmu-ilmu falsafah dan hikmah, yaitu ilmu yang diperoleh manusia karena kemampuan berpikirnya dan dengan indera-indera kemanusiaan sehingga ia dapat sampai pada obyek-obyek, persoalan-persoalan yang dituju. Yang kedua adalah ilmu-ilmu yang khusus terdapat di kalangan kaum muslimin dan dinamakan dengan ilmu-ilmu tradisioanal konvensional yang diperoleh dari informasi berdasarkan otoritas syariat yang di dalamya tidak ada tempat bagi akal kecuali untuk menghubungkan persoalan-persoalan detail dengan prinsip-prinsip dasar secar analogi.
Daftar Pustaka
Madjid, Nurcholis. 1984. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Hilaluddin, 1988. Skripsi (Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibn Khaldun). Yogyakarta.
Nasr , Sayyed Hossein dan Oliver Leaman. 2003. History of Islmaic Philosophy (Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam),  Bandung: Mizan
http://www.tribunnews.com/2011/08/11/ibnu-khaldun-cendekia-muslim-penemu-ilmu-sosiologi

Post a Comment for "Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibn Khaldun (Bagian 2)"