Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tugas Seorang Guru Tidak Hanya Mengajar?



Seorang musyrif tidak hanya sebagai perantara dalam mengajarkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), akan tetapi juga mempunyai peran yang sangat pentiing dalam membina akhlak atau budi pekerti santri (transfer of value). Maka selain mempunyai kecakapan dalam ilmu pengetahuan yang dikuasainya, seorang musyrif juga perlu memiliki kepribdian dan jiwa yang bisa menjadi teladan bagi santri.

Untuk mewujudkan seorang musyrif yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dan teladan bagi santri maka para musyrif perlu mempunyai sifat-sifat berikut:
1.         Ikhlas

Yakni mempunyai sifat murni untuk memberikan ilmu pengetahuan dan membina akhlak santri dengan segala daya dan kekuatan yang dia punya tanpa disertai embel-embel hal lain yang dapat mempengaruhi niat lurus sebagai awalnya. 

2.         Amanah

Yakni dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi kewajiban sebagai seorang musyrif. Tidak menggunakan tanda yang tersemat dalam dirinya itu untuk hal-hal yang bisa membuat orang kecewa atas perbuatannya yang tidak jujur.

3.         Sabar

Dalam mendidik anak tentulah tidak selalu mulus dan lancar. Suatu saat pasti akan menemui jalan terjal baik dari sifat anak yang macam-amacam atau dari kejenuhan yang datang melanda. Oleh karena itu, dibutuhkan bagi seorang musyrif mempunyai sifat sabar.
a.       Sabar dalam mengemban amanah
b.      Tidak tergesa-gesa
c.       Terus konsisten

4.         Himmah ‘Aaliyah (Semangat yang Tinggi)

Seorang musyrif harus mempunyai visi kedepan, cita-cita yang tinggi dan target yang harus dicapai. Manusia yang mempunyai sifat demikian akan cenderung tidak mudah larut dalam masalah-masalah kecil yang dihadapinya karena dia tahu bahwa ada suatu hal yang lebih penting dari hal itu, yakni visi kedepan yang menjadi target utama.
5.         Tsiqah bi at-Thariq
Maksud dari kata tersebut adalah bahwa seorang musyrif harus meyakini bahwa profesi sebagai musyrif itu merupakan  sebuah jalan perjuangan, jalan tercepat yang kelak akan membawanya kepada kemualiaan (surga). Sehingga dengan adanya keyakinan ini, seorang musyrif tidak akan terpengaruh apakah mendapat pujian atau tidak dalam melakukan kegiatannnya sebagai musyrif.
6.         Tsiqah bi an-Nafs
Adapun yang dimaksud dari perkataan ini adalah seorang musyrif harus mempunyai kepercayaan diri dalam membina santri. Jangan sampai tampak keragauan sedikitpun dalam diri ketika didepan anak. Bila ini terjadi, maka akan membuat santri merasa bahwa musyrif yang sedang mengampunya adalah orang yang kurang kompeten.
7.         Syaja’ah
Syaja’ah yang mempunyai arti keberanian ini harus pula terdapat dalam salah satu sifat seorang musyrif. Keberanian yang tak terbatas, artinya dalam berbuat baik untuk membina santri, apapun itu harus dilakukan meskipun ada banyak resiko yang akan meghampiri. Hal itu tentu saja melalui pemikiran yang matang telebih dahulu, tidak hanya ‘srudak-sruduk’. Termasuk didalamnya bila suatu saat harus berhadapan dengan makhluk ghaib (jin).
8.         Dawam al-Muhasabah
Seorang musyrif tentu juga menusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Oleh karenanya, harus senantiasa memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Maka dengan bermuhasabah-lah seorang musyrif selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Mengintrospeksi diri akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya di hari yang sudah lalu.


Tausiyah dari Ust Ridwan Hamidi
Sargede, 22 Desember 2016

Post a Comment for "Tugas Seorang Guru Tidak Hanya Mengajar?"