Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merayakan Maulid Nabi, Haram?


Merujuk dari suku katanya, berasal dari Bahasa Arab مَوْلِدٌ mengikuti wazan مَفْعِلٌ  yang mempunyai makna tempat atau waktu. Adapun tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW kota Makkah, terletak diantara Shofa dan Marwah. Bangunan sederhana itu sekarang menjadi Maktabah al-Mukarromah. Sedangkan waktu kelahiran beliau menuai perdebatan yang sudah lama terjadi.

Permasalahan ini sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Beberapa ulama telah berbeda pendapat mengenai masalah ini. Seorang peneliti sejarah dari India, Syaikh al-Mubarokfuri mengatakan dalam kitabnya bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 9 Rabiul Awal di hari senin, karena menurut beliau bahwa di tanggal 12 bukan hari senin melainkan hari kamis.

Para Ulama telah sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada hari senin. Pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah mulai dari pendekatan riwayat yang maqbul hingga melalui pendekatan ilmu falak dengan menghitung kembali pada hari senin saat itu bertepatan dengan tanggal berapa, bulan berapa dan tahun berapa dalam kalender Hijriyah.

Dalam buku Sirah Nabi, karangan Imam Nawawi terdapat empat pendapat masyhur mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Empat pendapat tersebut yaitu, tanggal 2, 8, 10, 12 di bulan Rabiul Awal. Tidak dapat dipastikan mana tanggal yang lebih benar diantara keempat pendapat yang masyhur itu, kenapa? Karena tidak ada riwayatnya.

Terlepas dari perdebatan kapan tanggal Nabi Muhammad SAW lahir, hikmah yang dapat diambil adalah tidak perlu terjebak dan sibuk dalam hal penentuan waktu kelahiran Nabi SAW, akan tetapi lebih kepada memperhatikan uswah hasanah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan mengamalkannya.

Disamping itu, ada salah satu yang menjadi kelabihan Islam dibandingkan dengan agama yang lain. Yakni mempunyai sosok yang teladan  Nabi Muhammad SAW dalam penerapan amal sesuai dengan agamanya. Tidak ada dalam satu agama-pun di dunia ini kecuali Islam yang mempunyai sosok itu. Contoh yang paling mendasar adalah dapat diceritakannya dengan hal-hal detail dan bisa dipertanggungjawabkan, seperti cara tidur Nabi, cara makan Nabi, cara tertawa Nabi dari yang kelihatan giginya atau gigi serinya dan masih banyak lagi.

Mengapa bisa sampai demikian?
Karena para ulama sangat ketat setiap menerima riwayat yang datang dalam rangka untuk menceritakan tentang kehidupan Nabi SAW. Tidak sembarang riwayat bisa diterima, harus melalui sebuah proses dulu, salah satunya adalah sebuah proses yang berbanding terbalik dengan anjuran dalam ilmu akhlak, yakni ‘bersuudzon’ ketika menerima kabar sampai datang sebuah pernyataan dalam bentuk pujian atau testimoni terhadap pembawa kabar tersebut kalau memang bisa dipertanggung jawabkan. Kalau hanya datang sebuah kabar dari si fulan tanpa diketahui tentang biografi si fulan, maka riwayat yang datang itu ditolak karena menjadi sebuah riwayat yang lemah.

Oleh karena itu, ketika ada kabara yang sampai kepada kita, maka telah melalui proses yang sangat ketat.


Tausiyah Ust Ridwan Hamidi
Kajian Baitul Hikmah di PDM Kota Yogyakarta
25 Desember 2016




Post a Comment for "Merayakan Maulid Nabi, Haram?"