Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memperingati Hari Ibu, Perlukah?




Hari Ibu

Di bulan Desember tanggal 22 menjadi sebuah waktu yang digunakan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada Ibu sebagai bentuk perwujudan berbakti kepada orang tua.

Berbakti kepada orang tua merupakan sebuah kewajiban bagi seroang anak. Bahkan kewajiban ini berurutan setelah perintah untuk menyembah Allah SWT.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Israa [17]: 23).

Kenapa seorang anak wajib berbakti kepada orang tua?, karena jasa dan pengorbanan orang tua yang tidak tergantikan. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada seorang sahabat yang menggendong Ibunya untuk thawaf sebanyak 7 kali. Setelah selesai thawaf kemudian ditanyakan kepada sahabat Umar bin Khattab, “Apakah perbuatan sahabat ini dapat membalas jasa orang tuanya?”. Umar bin Khattab menjawab, “Tidak, bahkan perbuatan itu tidak sebanding dengan satu kali tarikan nafas Ibunya ketika melahirkannya”.

Selain itu, berdasarkan ayat di atas, menjelaskan tentang penggunaan batasan paling rendah seorang dikatakan durhaka kepada orang tua. Yakni, mengatakan ‘ah’, hal itu tidak diperbolehkan dalam Islam, termasuk di dalamnya adalah ketika seorang anak dimintai tolong orang tuanya kemudian melaksanakan perintahanya akan tetapi sambli menghela nafas. Lalu, bagaimana dengan perbuatan yang lebih dari itu? Jelas itu menjadi perbuatan yeng lebih durhaka yang dilarang oleh Islam.

Lantas kenapa ada hari Ibu yang dilaksanakan tiap tanggal 22 Desember? Hal ini terjadi karena di beberapa negara teradapat seseorang yang terbiasa sibuk dan sering durhaka kepada orang tua, maka dibuatlah hari khusus untuk Ibu, dalam rangka untuk mengkhususkan hari berbakti kepada Ibu.

Seorang anak pasti pernah durhaka kepada orang tuanya, tapi apakah menjadi sebuah kepantasan bagi seorang muslim mengikuti event hari ibu dalam rangka untuk berbakti kepada orang tuanya hanya setahun sekali?. Padahal Al-quran dan Rasulullah SAW memerintahkan seorang muslim untuk berbakti kedua orang tuanya tidak hanya sebulan sekali atau setahun sekali tetapi setiap hari, baik kepada Ibu atau Bapak. 

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ


Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman [31]: 14).



Tausiyah Ust Ridwan Hamidi
Kajian Baitul Hikmah di PDM Kota Yogyakarta
25 Desember 2016

Post a Comment for "Memperingati Hari Ibu, Perlukah?"