Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Akidah (Ruang Lingkup dan Prinsip Dalam Memahaminya)

Secara etimologis, aqidah berasal dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqdan-aqidatan. ‘Aqdan berarti simpul, ikatan, kokoh, perjanjian. Atau sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tidak dapat teralih daripadanya. Setelah menjadi bentuk aqidah mempunyai arti keyakinan. Relevansi antara arti kata ‘aqdan dan aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.

Secara terminologis, kata akidah mempunyai beberapa definisi, antara lain:
1. Menurut Ibn Taimiyah (w. 728 H)[4]

العقيدة هي الأمر الذي يجب أن يصدق به القلب وتطمئن إليه النفس حتي يكون يقينا ثابتا لايمازجه ريب ولايخالطه شك


“Akidah adalah suatu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati. Dengan akidah dapat menenangkan jiwa hingga keadaan jiwa atau hati menjadi tetap yakin, tidak tersentuh oleh keraguan, tidak bercampur dengan prasangka”.

2. Menurut Abū Bakar Jābir al-Jazairī (w. 1420 H)[5]

العقيدة هي مجموعة عن قضايا الحق البديهية المسلمة بالعقل والسمع والفطرة يعقد عليها الإنسان قلبه ويثني عليها صدره جازما بصحتها قاطعا بوجودها وثبوتها لايري خلافها أنه يصح أو يكون أبدا

“Akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasasrkan akal, wahuyu dan risalah. (Kebenaran) itu dipatrikan (oleh manusia) di dalam hati (serta) diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”.
Ḥasan al-Bannā (w 1368 H) mengelompokkan ruang lingkup akidah menjadi empat kelompok[6]:

1. Ilahiyāt: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Tuhan, Allah) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat Allah perbuatan-perbuatan Allah dan lain sebagainya.

2. Nubuwāt: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang kitab-kitab Allah mukjizat, karamah dan lain sebagainya.

3. Ruhaniyāt: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, jin, iblis, syaitan, roh dan lain sebagainya.

4. Sam’iyyāt: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli berupa al-Qur`an dan as-Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dan lain sebagainya.
Adapun prinsip dan manhaj dalam akidah, yaitu sebagai berikut[7]:

a. Sumber dalam menetapkan akidah adalah al-Qur`an dan sunah yang sahih serta ijmak para salaf.

b. Setiap hadis yang sahih dan diyakini datang dari Rasulullah saw maka wajib diterima meskipun kedudukan-nya sebagai hadis āḥād.

c. Semua prinsip-prinsip agama sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Tidak seorangpun yang boleh mengadakan sesuatu yang baru dalam persoalan agama lalu mengatasnamakannya sebagai agama.

d. Berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik lahir maupun batin. Tidak menentang sesuatupun dari al-Qur`an atau sunah yang sahih baik dengan qiyās, żauq, pendapat syekh imam atau yang lainnya.

e. Akal yang sehat akan selalu sejalan dengan dalil naqli yang sahih. Dua hal yang qaṭ’ī tersebut selamanya tidak akan pernah bertentangan. Ketika dikhawatirkan terjadi pertentangan maka yg didahulukan adalah dalil naqli.

f. Wajib berpegang teguh dengan lafaz-lafaz syar’ī dalam akidah serta menjauhi istilah-istilah yang diada-adakan. Istilah-istilah yang masih umum yang mengandung pengertian salah dan benar harus diberi pengertian maknanya, jika benar maka istilah itu ditetapkan sesuai dengan istilah syara’-nya dan jika salah maka harus ditolak.

g. Rasulullah saw adalah seorang yang ma’sūm dan seluruh umat Islam juga akan terjaga dari melakukan kesepakatan dalam kesesatan. Tetapi secara individual tidak seorangpun dari umat Islam yang maksum. Apabila terdapat suatu hal yang diperselisihkan dalam umat Islam, maka harus dikembalikan kepada al-Qur`an dan sunah serta dimaklumi akan adanya kesalahan pada mujtahid ummah.

h. Ada di antara umat Islam yang diberi ilham oleh Allah swt. Mimpinya orang yang saleh adalah benar, firasat orang yang jujur adalah benar. Semua ini merupakan karamah dengan syarat hal itu tidak menyalahi syara’. Hal-hal yang demikian tidak bisa menjadi sumber dalam masalah akidah dan syariat.

i. Berdebat dalam masalah agama untuk mencari kemenangan adalah tercela, sedangkan berdebat dengan cara yang baik adalah terpuji dan disyariatkan. Sesuatu yang oleh Agama dilarang untuk membahasnya maka harus ditaati, dengan catatan pelarangan itu sahih dari Nabi saw. Setiap muslim wajib menahan diri dari membahas secara mendalam sesuatu yang tak diketahuinya lalu menyerahkan hakikat masalah tersebut kepada Allah swt.

j. Seorang muslim wajib menggunakan dalil al-Qur`an dan sunah dalam membantah suatu pendapat. Demikian juga dalam persoalan i’tiqād dan penetapan sesuatu. Maka dari itu bidah tidak boleh dibantah dengan bidah yang serupa. Tidak diperbolehkan pula bersikap berlebih-lebihan. Segala hal baru yang diada-adakan dalam agama adalah bidah dan segala bidah adalah sesat dan segala kesesatan adanya di dalam neraka.

Referensi:
  • M. Hasbie ash-Siddieqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid atau Kalam, Cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 49 
  • Ahmad Warson Munawir, Kamus al-Munawir, Cet. 11 (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 953
  •  Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Cet. 15 (Yogyakarta: LPPI UMY), hlm. 1   
  • Ibn Taimiyah, al-‘Aqīdah al-Wasitiyah, (Beirut: Dar al-‘Arabiyah, t.th), hlm. 5
  •  Yunahar Ilyas , Kuliah..., hlm. 2
  •  Ibid, hlm 6.
  •  Nāṣir bin ‘Abd al-Karīm al-‘Aql, Mujmal Uṣūl Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah fi al-‘Aqīdah, Cet. 2 (Riyadh: Dar al-Watni li al-Nasyr, 1992), hlm. 7-9

Post a Comment for "Akidah (Ruang Lingkup dan Prinsip Dalam Memahaminya)"