Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Muhammadiyah di Limpung



Usia Muhammadiyah di Kecamatan Limpung, seusia dengan Muhammadiyah Kecamatan Tersono, bahkan masuknya faham ini di Limpung secara kronologis hampir bersamaan dengan Cabang Tersono.
Munculnya faham ini di Kecamatan Limpung, bermula dari Krangko’an Ngalian, sebuah desa yang berada di pinggir kota Kecamatan Limpung, yang berjarak kira-kira 4-5 km dari kota Limpung.
Masuknya faham Muhammadiyah di Krangko’an Limpung, ada kesamaan dengan Muhammadiyah Mplangi Pekuncen Kecamatan Tersono yaitu ketika Bapak K.H. Sidiq dan Bapak K. Abdus Shomad, 2 tokoh dari Limpung dan Tersono hendak menimba ilmu ke Semarang, namun sesampainya di Kendal bertemu dengan Bapak K. Hisyam tokoh Muhammadiyah Kendal, melalui pertemuan tersebut terjalinlah suatu hubungan yang akrab dan intens yang akhirnya terjadi kesepakatan untuk melakukan pengajian bersama, antara Muhammadiyah Krangko’an Limpung dan Mplangi Tersono.
Faham Muhammadiyah masuk di Krangko’an Limpung kira-kira tahun 1927. pembawa faham ini adalah Bapak K.H. Sidiq bersama dengan Bapak K. Abdus Shomad (Tersono) yang pada awalnya melakukan hubungan dengan Bapak Hisyam dari Kendal, dan tidak ketinggalan juga menjalin hubungan dengan para tokoh Muhammadiyah dari Yogyakarta.
Bapak K.H. Sidiq  adalah putra dari Bapak H. Musa dari Yogyakarta dan Bapak H. Musa tersebut sering melakukan kontak dengan Bapak K.H. Ahmad Dahlan. Hubungan dengan Bapak K.H. Ahmad Dahlan tersebut membawa pengaruh besar bagi para tokoh Muhammadiyah periode awal di Krangko’an.
Tokoh utama pada periode awal antara lain : Bapak H. Sidik, Bapak Rochani, kemudian tokoh utama periode kedua, sebagai penerus perjuangan pada periode awal adalah : Bapak Sobar, Bapak Slamet, Bapak Abd. Kadir, Bapak S. Kamil, Bapak K. Khaerudin dan Bapak Suherlan.
Dalam catatan suatu riwayat tokoh Tersono periode kedua, yaitu Bapak Abdullah menyebutkan bahwa hadirnya Muhammadiyah di Krangko’an Limpung tidak bisa dilapaskan dari tiga daerah, masing-masing Pekajangan Pekalongan, Kendal dan Yogyakarta. Tokoh Kendal yang sering membina di Krangko’an adalah Bapak Hisyam, dari Pekalongan antara lain : Bapak Thouib dan Bapak Abdurrahman. Untuk Yogyakarta yaitu Bapak H. Musa yang sering berjumpa dengan Bapak K.H. Ahmad Dahlan.
Perkembangan Muhammadiyah di Krangko'an Limpung, pada periode awal belum nampak, karena pada saat itu belum kelihatan ada amal usaha yang berdiri. Kegiatan pada waktu awal faham ini masuk hanyalah pengajian rutin dari rumah ke rumah, dari mushola ke mushola dan interaksi dengan karib kerabat (saudara dekat).
Disamping itu, pada awal faham ini menginjakkan kaki di Krangko'an, situasi dan kondisi politik negara masih belum menentu. Pada era tahun 1926 sampai menjelang tahun 1945, Indonesia masih dikuasai oleh penjajah Belanda dan Jepang. Situasi pada saat itu sangat tidak memungkinkan untuk mengembangkan atau mendirikan lembaga pendidikan.
Andaikan memungkinkan untuk didirikan sebuah lembaga pendidikan, sangatlah berat dan besar sekali tantangannya. Pemerintah Kolonial pada saat itu memang sengaja menciptakan kebodohan untuk rakyat Indonesia dan menghalang-halangi bagi berdirinya lembaga pendiidkan. Kondisi seperti inilah yang tidak memungkinkan untuk berdirinya sebuah lembaga pendidikan.
Meskipun demikian, faham Muhammadiyah terus berkembang merambah ke desa-desa yang lainnya, walau tidak dibarengi dengan perkembangan amal usaha.
Pada masa pra-kemerdekaan sampai dengan paska kemerdekaan hingga tahun 1960-an, kegiatan yang digeluti tiap Ranting baru sampai pada tahap pengajian-pengajian saja. Menurut penuturan Bapak S. Kamil tokoh pendiri Ranting Limpung Kota, sekaligus sebagai perintis berdirinya kepemimpinan Cabang Limpung, penyebaran faham Muhammadiyah dari Desa Krangko'an, ke wilayah-wilayah lain, seperti ke Ranting Limpung Kota, adalah menjelang atau pada saat dibubarkannya partai politik Masyumi.
Bubarnya Partai Masyumi pada pemerintahan Orde Lama, bagi Muhammadiyah membawa angin segar. Hal ini ditandai dengan masuknya para tokoh eks Masyumi ke organisasi Muhammadiyah. Dan ini mendukung gerak laju perkembangan Muhammadiyah.
Bubarnya politik Masyumi pada tahun 1960, menjelang runtuhnya Orde Lama, sampai dengan keluarnya Dekrit Presiden tahun 1966, sebagai tonggak awal sejarah pemerintahan Orde Baru dengan Supersemarnya (Surat Perintah Sebelas Maret), bekas tokoh-tokoh Masyumi yang ada di Kecamatan Limpung kebingungan untuk menyalurkan aspirasi politiknya.
Awal sejarah Orde Baru, yang muncul sebagai akibat adanya tragedi G 30/S/PKI, dalam upaya penumpasan total orang-orang yang terlibat gerakan komunis tersebut adalah dengan cara menangkap orang-orang yang belum masuk ke suatu organisasi keagamaan atau masuk Golkar. Untuk menyelamatkan diri dan menyalurkan aspirasi politiknya, bekas tokoh Masyumi tersebut masuk ke organisasi Muhammadiyah, sebagai pilihan utama, maka Muhammadiyah mendapat dukungan, yang akhirnya penyebaran dan pertumbuhannya.
Perjalanan Muhammadiyah sampai ke Limpung merupakan upaya dan kerja keras dari tokoh-tokoh utama, mulai dari Bapak K. Sidiq (alm) dan kawan-kawan, demikian Bapak Abdullah, tokoh periode kedua, yang sampai hari ini masih hidup.
Faham Muhammadiyah sampai di Limpung kota, dibawa oleh tokoh Masyumi, antara lain : Bapak S. kamil yang dulunya menjabat sebagai Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Bapak Khaerudin Khasbi (Masyumi), Bapak H. Muhammadiyah Ali dari Partai Persatuan Pembangunan.
Ketiga tokoh tersebut bersepakat untuk mendirikan kepengurusan Ranting Limpung. Ranting Limpung berdiri pada tahun 1963. berdirinya Ranting Limpung tidak lepas dari peran serta 3 tokoh tersebut diatas. Berdirinya Ranting Limpung dilakukan di tempat Bapak S. kamil pada jam 2 siang tahun 1963.
Tokoh-tokoh lain yang ikut berperan serta dalam pekembangan Muhammadiyah di Limpung antara lain : Bapak Abdul Ghofar, Muhammad Afif, Suherlan, Yusuf Ishak, Umar Dahlan dan Bapak Fadhol.
Pada tahun 1963 keberadaan Ranting Limpung masih menginduk dengan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, karena pada waktu itu kepemimpinan daerah belum terbentuk. Disamping itu, Kabupaten Batang masih berbentuk Kawedanan, dengan Karesidenan Pekalongan.
Setelah terbentuk kepemimpinan Ranting para tokoh dan warga simpatisan Muhammadiyah aktif mengikuti pengajian, baik yang diselenggarakan Muhammadiyah Mplangi Kecamatan Tersono ataupun yang diadakan Muhammadiyah Krangko'an Kecamatan Limpung. Mubaligh yang sering mengisi atau membina Muhammadiyah Krangko'an dan Limpung adalah para tokoh Muhammadiyah dari Pekajangan Pekalongan, yang antara lain : Bapak Suci Mardiko dan Bapak Harun AR-Rasyid, sedang dari Kendal adalah Bapak M. Hisyam.
Pengajian pada waktu itu mengambil tempat di mushola Bapak Khaerudin dan Bapak Fadhol. Isian pengajian adalah berkisar pada masalah akidah dan ibadah yang sesuai dengan tuntutan Rasul. Pengajian tersebut diselenggarakan pada tiap malam ahad.
Dalam perkembangan berikutnya, tokoh-tokoh yang telah berupaya mendirikan Ranting, melakukan musyawarah untuk mendirikan kepengurusan Cabang Muhammadiyah Limpung. Pendirian Cabang kira-kira satu tahun setelah Ranting Muhammadiyah berdiri, yaitu pada tahun 1964.
Tokoh utama yang menggagas berdirinya cabang antara lain : Bapak Khairudin, Bapak Fadhol, Bapak Abdullah, Bapak S. kamil (yang pernah mengikuti kongres di Yogyakarta pada tahun 1939).
Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta tersebut membawa pengaruh tersendiri bagi Bapak S. Kamil (waktu itu masih muda). Ia kenal lagu-lagu prangko amal  dan lagu-lagu kongres ke-29, di Yogyakarta. Dan pada saat diwawancarai, beliau masih ingat dan hafal lagu-lagu tersebut.
Upaya pendirian Ranting dan Cabang Muhammadiyah, melalui proses yang panjang, penuh rintangan dan hambatan. Oleh karena itu, upaya pengembangan dan penyebaran Muhammadiyah sulit dilakukan karena faham Muhammadiyah sangat berseberangan dengan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Tradisi atau sosio keagamaan di masyarakat sangat tidak mendukung langkah dakwah Muhammadiyah. Justru, dakwah yang dikembangkan oleh Muhammadiyah sering berbenturan dengan paham keagamaan yang dianut mayoritas masyarakat.
Fenomena di atas, menjadi gejala umum atau kejadian yang alamiah, yang tidak terjadi di satu atau dua tempat saja, namun terjadi di seluruh wilayah persada nusantara. Ini membuktikan sosio Agama masyarakat Indonesia masih sangat kental dengan budaya agama Hindu-Budha, yang lebih dahulu masuk dan mewarnai corak keberagamaan masyarakat.
Faham Muhammadiyah merupakan faham yang sangat minoritas di Kecamatan Limpung, di tengah-tengah besarnya pemeluk Islam, namun kecilnya pengikut tidaklah memudarkan kendali dakwah Muhammadiyah di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya faham Muhammadiyah di Kecamatan Limpung dan dengan ditandai pula, kegiatan-kegiatan dakwah keagamaan di masyarakat.
Tokoh-tokoh Muhammadiyah di Limpung terus berupaya melakukan dakwah di masyarakat, dakwah nyata seperti, melakukan pendirian Masjid Limpung, yang sekarang menjadi masjid besar Kecamatan Limpung, juga merupakan upaya dari para tokoh Muhammadiyah, setelah didirikannya masjid, lalu diadakan pangajian anak-anak setiap ba’da Maghrib.
Selain masjid, Pimpinan Muhammadiyah Limpung memiliki juga amal usaha pendidikan, yaitu Madrasah Miftahul Huda, yang pada waktu itu masuk sore. Didirikan juga TK ABA pada periode tahun 1970-an. Itulah perkembangan yang terjadi di Cabang Muhammadiyah Limpung, Cabang tertua kedua SMUH Tersono, yang sampai dengan tahun 1966 menginduk dengan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Limpung merupakan Cabang yang sampai dengan periode tahun 1980-an, bahkan sampai menjelang muktamar ke-44 jakarta, perkembangannya sangat lambat. Dilihat dari amal usaha yang dimiliki, belum maksimal. Amal usaha yang dipunyai Cabang Limpung baru Lembaga Pendidikan, yaitu 2 buah TK ABA, MIM dan MAM. Bidang Ekonomi yaitu LKM yang pada tahun 2002, mulai melakukan pembenahan untuk pendirian BMT. Tahun 2003-2004 ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Limpung mendirikan Gedung Sekretariat Muhammadiyah yang berlantai dua.
Kamajuan Cabang Limpung, mulai kelihatan pada periode tahun 1995-2004 yaitu munculnya tokoh-tokoh yang secara ekonomi cukup mapan seperti Bapak H. Soeharto, Bapak H. Agus Amirudin, Bapak H. Badjuri, Bapak Wgiman dan lain-lain, merupakan asset yang cukup besar bagi perkembangan Muhammadiyah di Limpung.
Kecamatan Limpung yang memiliki luas 60,395 km² dengan jumlah penduduk 58.884 jiwa yang tersebar di 22 desa. Mayoritas penduduk beragama Islam, yang mencapai 58.150 jiwa, katolik 480, Protestan 29, Budha 29 dan Hindu 6 orang. Tempat ibadah yang ada di Kecamatan Limpung 70 masjid, 240 mushola dan 4 gereja. Sampai dengan tahun 2004, PCM Limpung memiliki 7 PRM yang cukup aktif, yaitu[1] :
1.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Limpung
2.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kalisalak
3.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sempu
4.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Babadan
5.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Plumbon
6.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krangko'an
7.        Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ngalian.
Dan masih terdapat 15 desa yang belum terbentuk kepemimpinan tingkat Ranting.
Melihat luas wilayah dan besarnya jumlah umat Islam, PCM Limpung memiliki peluang besar untuk mengembangkan dakwah di wilayah Kecamatan Limpung. Potensi yang dimiliki oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah sangat mendukung, potensi wilayah dan Pimpinan yang ada, merupakan asset untuk pengembangan dakwah ke depan. Potensi basis massa di Pimpinan Ranting Muhammadiyah Limpung cukup bagus dan struktur kepengurusannya lengkap.

Sedangkan jumlah amal usaha yang dimiliki Cabang Muhammadiyah Limpung sampai dengan tahun 2004, yaitu :
1.        2 buah TK ABA
2.        1 buah MIM
3.        1 buah MAM
4.        1 buah LKM (yang kini sedang diupayakan untuk dijadikan BMT)

Sumber:
http://batang.muhammadiyah.or.id/content-33-sdet-masuknya-muhammadiyah-di-kecamatan-limpung.html




[1] Buku Laporan Pertanggungjawaban Musyida periode 1995 – 2000.

Post a Comment for "Sejarah Muhammadiyah di Limpung"