Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perjalanan Dakwah

Muballigh Hijrah merupakan suatu kegiatan tahunan yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) pada bulan Ramadhan. Kegiatan ini bermaksud untuk mengadakan dai-dai dari kader-kader Muhammadiyah yang kemudian diberi pelatihan beberapa hari sehingga dai muda siap untuk ditempatkan di seluruh plosok-plosok wilayah Yogyakarta dalam rangka untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat mengenai tuntunan agama selama bulan Ramadhan sehingga dalam bulan tersebut bisa memberikan penjelasan tentang agama agar masyarakat bisa lebih mengerti dan paham untuk beribadah secara maksimal di bulan yang penuh berkah itu.

Ramadhan tahun 1433 Hijriyah, saya ditempatkan di sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Magelang Provinsi Jawa Tengah. Desa ini diberi nama Merdikorejo tepatnya di Dusun Bangunrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman. Penduduknya ramah dan sambutan terhadap tamu yang luar biasa. Bagaimana tidak, ketika malam pertama saya perkenalan di masjid suasana bergitu ramai seperti sudah menunggu kedatangan seseorang yang telah ditunggu lama. Ceileh macam pejabat saja saya ini, Hehe.

Hal ini membuat saya sedikit nerveous dan berkeringat dingin tapi juga bahagia melihat suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Dari sinilah saya sudah mulai merasakan kerasan ditempatkan di desa ini. Sebuah desa yang akan mengawali cerita saya tentang perjalanan dakwah ini yaitu sebuah perjalanan dakwah yang pertama kali saya lakukan.

Sebuah dusun yang tidak terlalu besar itu tersimpan banyak eksistensi mulai dari petani salak yang menjadi sumber mata pencaharian utama, penambang pasir di sungai perbatasan (baca: kali krasak), berdagang ke pasar, sopir truk, pegawai bank, guru, pensiunan guru dan pensiunan TNI dan masih banyak lagi eksistensi yang lainnya.

Mereka semua muslim yang taat ibadah tapi juga masih berpegang kuat terhadap Qaun yang menjadi turun temurun dari pendahulu mereka. Qaun tersebut adalah budaya dan adat istiadat yang masih kuat yang membuat pola pikir mereka stagnan karena semua harus sesuai dengan adat dan budaya jika tidak mereka akan dianggap asing. Sehingga terkadang secara sadar atau tidak mereka telah mencampur adukan antara syariat dengan budaya yang tidak ada ajarannya, maka terjadilah istilah kaum muslim abangan melekat pada mereka. Walaupun istilah itu tidak bisa digeneralisasikan tapi memang sangat mendominasi perilaku masyarakat yang seperti itu. Dan masih ada satu problem yang membuat saya geleng-geleng kepala bukan karena saya dikasih makan daging (maklum ga suka daging-dagingan..hehe) tapi karena keberadaan para pemuda di sana. Seperti anak muda gaul yang lainnya, mereka tidak lagi mau dianggap anak kecil lagi, dalam artian segala tindakan mereka tidak mau dicegah atau dilarang, apalagi terhadap tindakan yang menurut orang tua itu tidak baik. Akibatnya, keringlah di dusun itu akan kegiatan-kegiatan anak muda yang berbau positif. Adanya hanya kluyuran di malam hari pulang pagi-pagi dan langsung tidur seperti makhluk nocturnal, berkegiatan di malam hari dan tidur di siang hari. Kalau saja kluyurannya pergi ke masjid untuk melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah itu mah bagus, lha ini kluyurannya enggak jelas jluntrungannya ke mana. Lagi-lagi ini menjadi tugas para Muballigh untuk membantu kembali menyelaraskan mereka dengan jalan petunjuk yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

Dan alhamdulillah, saya mendapat tempat tinggal selama Muballigh Hijrah di rumah seorang bapak pensiunan guru, dia seseorang yang ditokohkan di masyarakat setempat, dia menjabat ketua umum dalam keperngurusan ranting Muhammadiyah di desa Merdikorejo.  Ini menjadikan saya bisa bertanya banyak tentang keadaan dusun tersebut, dan memudahkan saya dalam menjalankan tugas ini. Ketika akan bertindak sesuatu, pasti sebelumnya saya akan diskusikan dulu dengan bapak tersebut bagaimana baiknya dan bagaiamana langkah-langkah yang harus diambil. Sehingga nantinya tindakan saya tidak grusah-grusuh dan gegabah.

Komunikasi menjadi suatu alat yang penting dalam tugas dakwah, menjaga hubungan baik dengan masyarakat, bergaul dengan mereka, memberikan teladan, mengerti apa yang sedang menjadi permasalahan mereka dan apa solusi yang dapat diberikan. Semua itu merupakan unsur-unsur yang harus saya lakukan dan saya ketahui yang nanti akan menjadi tolak ukur sejauh mana keberhasilan dakwah saya kepada masyarakat. Tentulah seorang dai itu tidak akan tinggal diam saja ketika melihat suatu kumungkaran, tapi bagaimana seorang dai harus bersikap untuk mencegah kemungkaran tersebut. Bisa dengan tangannya, mulutnya, atau dengan hatinya. Juga didukung dengan tauladan yang baik bagi para jamaahnya. Hal itu juga saya lakukan dengan beberapa tindakan keseharian yang sudah saya schedule-kan dan wajib saya lakukan diantaranya datang ke masjid lebih awal, jika belum ada muadzin tapi sudah masuk waktu shalat maka segera adzan, kemudian selalu siap jika disuruh untuk menjadi Imam shalat, sering kejadian ketika saya datang ke masjid lebih awal saya menjadi muadzin, saya menunggu lama, yang datang menjadi makmum hanya satu atau dua orang saja itupun bapak tuan rumah saya dan seorang bapak yang sudah tua (pakai banget). Itu yang iqamat saya yang menjadi Imam pun saya. Mantap kan gan..!! hehe.

Sore hari saya isi dengan mengajar anak-anak TPA (taman pendidikan al-Qur’an) dan mengisi takjilan. Jadi, semua menjadi satu sekitar 60 anak saya isi dengan dibantu beberapa remaja di sana. Namanya juga taman pasti menyenangkan kan, jadi kegiatan itu tidak saya isi dengan monoton ngaji terus. Saya isi dengan cerita berhikmah,  nyanyi-nyanyi dan candaan bahkan beberapa kali saya ajak untuk menonton video kartun islami. Hmm, walaupun sudah usaha keras begitu, tetap saja namanya anak kecil ada saja yang berkelahi, ada yang jatuh, ada yang rebutan minta pertama ngajinya. Semua itu mewarnai dalam tugas dakwah saya ini. hehe

Malam hari menjalankan tugas jadwal kultum dan siap naik mimbar jika sewaktu-waktu jadwal itu kosong tidak ada yang mengisi. Kemudian dilanjut dengan tadarus bersama, pada kesempatan itu saya ajak anak-anak remaja untuk ikut tadarusan karena memang masih kurang semangat anak remajanya untuk mengaji. Saya dorong untuk ikut dan ternyata saya menemukan beberapa anak remaja masih belum lancar membaca al-Quran bahkan masih ada anak SMP yang belum bisa membaca al-Quran. Untuk itu, yang sudah lancar bisa membantu yang belum lancar atau yang belum bisa. Seperti itu secara continue. Hingga dikemudian hari mulai menunjukan kemajuannya.

Kegiatan rutin itu terus-menerus saya lakukan, disamping itu juga saya banyak-banyak bergaul dan silaturahim pada mereka. Sekali lagi, dengan keramah-tamahan mereka saya disini bukan lagi dianngap sebagai tamu tapi sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Sungguh suasana desa nan permai, indah lagi asri, tentram juga damai. 

Pernah juga saya sengaja ikut bapak untuk pergi ke kebun dengan tujuan memanen hasil ladangnya yang berupa cabai (bukan cabe-cabean loh ya.!!) dan salak. Hal ini saya lakukan karena ini juga sebagai langkah dalam berdakwah, yaitu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat. Waktu itu juga pernah ketika habis pulang dari tarling (tarawaih keliling), malam itu bapak minta ajarin baca kitab gundul. Dengan modal ilmu dari pak Syatibi aku tuntun bapakku itu. Ayo pak nyanyi..!!, fa'ala, yufa'ilu. Hehehe.

Ada sebuah kisah lagi nih gan, pada waktu itu awalnya saya sedang jalan-jalan untuk mencari udara segar pagi hari. Tiba-tiba dipinggir jalan ketemu ibu-ibu sedang sibuk dengan gabahnya. Saya beri salam dan sapaan, kemudian terjadi percakapan. “Dari gereja ya mas?”, tanya salah seorang ibu. Dengan meyembunyikan ekspresi kaget saya menjawab, “Enggak bu, dari jalan-jalan saja (sambil senyum ambigu)”. “Ohh”, jawab ibu itu. Dalam hati saya berkata, “Padahal sudah pakai baju taqwa gini masih dibilang dari gereja?!, kejam amat ini ibu ya, kebangetan dah”. Langsung saja tak jelaskan tentang keberadaan saya di sini dan secara tidak sengaja saya juga tiba-tiba bercerita singkat kepada ibu itu tentang bahaya dari kristenisasi dan bagaimana cara mereka untuk memurtadkan atau merngkristenkan kaum muslim. Eh...pas sudah selesai bercerita ibu yang satunya berkata, “Mas, ibu yang bertanya tadi ini, dia orang katholik”. Gubraakkkk. Sesaat suasana menjadi hening, seakan tiba-tiba mendung meliputi cerahnya pagi itu, wwuuuuusssss....hanya desus angin yang bersuara. Sambil senyum ambigu, saya beri sapa dan pulang. “Apa yang dipikirkan ibu itu ya?, ketika saya bercerita tadi”, tanyaku dalam hati sembari melanjutkan perjalanan.

Seru kan bro pengalaman saya, heheh. Semua itu adalah bentuk komunikasi-komunikasi yang saya lakukan ketika sedang menjalankan tugas Muballigh Hijrah. Dengan penuh rasa senang dan ikhlas saya bisa melakukannya. Banyak pelajaran, hikmah serta pengalaman yang tak ternilai harganya yang dapat saya ambil untuk mengembangkan diri dan bertindak lebih maju lagi. Ini adalah pengalaman pertama saya yang akan menjadi sebuah langkah awal dalam menjadikan saya sebagai orang yang bermanfaat bagi orang lain. Sekian.

Post a Comment for "Perjalanan Dakwah"