Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kunci Pancasila Di Tangan Ki Bagus Hadikusuma


Oleh: HS. Prodjokusumo

Bermula dari pidato Menteri Agama H. Almsyah Ratu Perwiranegara di Pondok almarhum KH. Bisri Syamsuri, rais Aam NU di Jombang di tahun 1978, yang mengungkapkan bahwa Pancasila adalah hadiah dan pengorbanan terbesar umat islam demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kemudian hal itu sering diungkapkan dalam pertemuan-pertemuan penting umat Islam, seperti peringatan 1 Muharram dan Musyawarah nasional Perguruan dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Dan ungkapan itu pernah dijelaskan pula secara terbuka dalam pertemuan Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama yang dihadiri oleh-oleh wakil-wakil MUI, DGI, MAWI, PHD (Hindu), WALUBI (Budha) dalam rangka pernyataan bersama mengenai Pancasila dalam kaitannya dengan organisasi-organisasi keagamaan sebagai mendukung pidato Presiden Soeharto tanggal 1 Oktober 1982 dalam upacara pelantikan anggota DPR/MPR yang baru, yaitu bahwa organisasi-organisasi keagamaan berhak hidup di bumi Pancasila, dan bahwa Pancasila tidak dapat menggantikan agama.

Dua Hal Pokok
Dua hal pokok dalam ungkapan Menteri Agama itu: Pertama, fakta sejarah menunjukkan  bahwa pada tanggal 6 Agustus 1945 ada kesibukan yang luar biasa di lingkungan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), karena ada permintaan dari Bung Hatta kepada Ki Bagus Hadikusuma untuk menyetujui penghapusan 7 kata dalam preambul UU Dasar atau Piagam Jakarta yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluknya”.
Alasan yang dikemukakan ialah, jika 7 kata itu tidak dihapus ada satu golongan di bagian Timur Indonesia terpaksa tidak akan ikut dalam Negara yang diproklamasikan. Jadi, tidak akan ikut merdeka.

Ki Bagus keberatan, sebab itu sudah menjadi satu keputusan yang sah, mengapa belum dikerjakan sudah diubah?. Dan lagi karena pemimpin Islam sebenarnya sudah ngalah, sudah mundur, yaitu sudah melepaskan hasrat mendirikan negara yang berdasar Islam, dengan pertimbangan mayoritas bangsa Indonesia memeluk agama Islam dan mengingat bahwa sejarah menunjukkan bahwa yang gigih berjuang mengusir penjajah adalah Muslimin sejak Sultan Agung, Diponegoro, Teuku Umar, Smanhudi, HOS Cokroaminoto dll.

Bung Hatta tidak berhasil mengubah pendirian Ki Bagus, Bung Hatta minta Mr. T. Muhammad Hasan untuk meyakinkan Ki Bagus. Menurut Mr. T. Muhammad Hasan dalam wawancara dengan topik November 1982, beliau berhasil meyakinkan Ki Bagus.

Menurut versi lain, setelah Mr. T. Muhammad Hasan gagal dan Prof. KH. Kahar Muzakir juga gagal, maka Mr. Kasman Singodimejo yang pada waktu itu Daidancho Peta Jakarta, juga berbicara dengan Ki Bagus, yang kemudian Ki Bagus menyatakan bisa menrima permintaan Bung Hatta, yaitu menghapus 7 kata.

Tetapi Ki Bagus minta supaya di belakang kata-kata “Ke-Tuhanan” ditamabah “Yang Maha Esa”. Itu disetujui.

Almarhum Prof. Dr. Mr. RH. Kasman Singodimejo selalu menteskan air mata jika teringat peristiwa itu. Beliau merasa “bersalah”, “ikut memaksa” Ki Bagus mengubah pendiriannya. Sebab almarhum Kasman Singodimejo, beranggapan bahwa Ki Bagus menaruh kepercayaan kepadanya, sehingga akhirnya Ki Bagus mau menerima.

Selesailah kesibukan luar biasa, dengan diubahnya Naskah Piagam Jakarta menjadi pendahuluan UUD 1945, yang sekarang menjadi pancasila. Jelas ini meruPakan toleransi dan jiwa besar pera pemimpin Islam terutam Ki Bagus Hadikusuma. Bayangkan jika pada waktu itu Ki Bagus menolak. Jadi kunci Pancasila berada di tangan Ki Bagus Hadikusuma. Dan Ki Bagus Hadikusuma tidak sendirian. Beribu pemimpin Islam, berjuta umat Islam ada dibelakngnya. Mr. T. Muhammad Hasan yang kini masih hidup menilai wajar bahwa Pancasila disebut sebagai hadiah umat Islam.

Demikian pula pendapat para pemimpin yang ikut membuat sejarah perjuangan bagsa Indonesia, seperti Mr. Moh. Roem dsb.

Ke dua, dalam perjalanan sejarah setelah proklamasi kemerdekaan, Pancasila pernah diputar-balikkan, di manipulasikan dan sebagai puncaknya ialah pada jaman Nasakom, ketika Pancasila diperas menjadi Trisila, Trisila diperas menjadi Eka Sila, yaitu Gotong Royong. Tentu dalam gotong royong ini tidak ada ke-Tuhanan. Itulah perbuatan komunis PKI yang berhasil mendominir golongan yang lain, hamper seluruh golongan.

Ironis

Umat Islam seperti menjadi jera, kapok, baik yang dulu terPaksa ikut Nasakom, maupun yang tidak iktu Nasakom, dengan konsekuen ditempel sebagai kontra revolusioner, dicap sebagai kepala batu.

Menyedihkan memang, bahkan ironis, bahwa dalam Orde Baru ini masih adal Islamofobi, apalagi terhadap  orang Islam dalam Ormas, dianggap kurang Pancasila, kurang pertisipasi, Islam centris dll.

Menteri Agama H. Almasyah Ratu Perwiranegara mengeahui hal ini, dapat mersakan apa yang dirasakan oleh umat Islam, dan menilai jika begitu terus persatuan dan kesatuan bangsa tidak akan terwujud, sebab saling curiga terus, kerukunan tidak akan tercapai sebab saling tidak percaya. Akibatnya dapat mengagalkan pembangunan.

Hal ini rupanya oleh Menteri Agama dilaporkan kepada Presiden Soeharto, lalu minta petunjuk, menyusun methoda yang disetujui. Mulailah Pak Alamsyah berupaya sekuat tenaga, mengingatkan kembali bahwa menurut fakta sejarah justru umat Islam sendiri yang menyusun Pancasila melalui tokoh-tokoh Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh nasioanal Islam lainnya, hanya seorang yang Kristen. Para pemimpin Islam telah berkorban demi berdirinya Negara Kesatuan RI karena itu sudah seharusnya umat Islam sekarang bertanggungjawab atas kelestarian Pancasila. Jangan sampai dimanipulasikan lagi oleh golongan yang manapun.

Umat islam Indonesia harus taat kepada agamanya dan sekaligus mantap dalam ber-Pancasila. “Kampanye” Pak Almsyah ini berhasil baik, yaitu sebagai pengemban garis kebijaksanaan Mandataris MPR, demi persatuan dan kesatuan bangsa dan stanilitas Nasional.

Tetapi ada golongan dalam masyarakat sperti yang terungkap dalam harian “Sinar Harapan” tanggal 18, 19 dan 20 November 1982, yang isinya tidak setuju dangan pernyataan Menter Agama bahwa Pancasila itu hadiah umat Islam, dengan berbagai dalih, antara lain menyatkan bahwa “hadiah” itu tida tepat, kenapa pakai istilah itu. Carilah istilah yang lain, bahasa Indonesia itu kaya dsb, tanpa menyarankan istilah nama yang lebih tepat.

Padahal Menteri Agama sudah menjelaskan, bahwa soal istilah “hadiah” itu tidak penting. Pakailah istilah apa saja, yang penting adalah bahwa para pimimpin nasionalis Islam telah menunjukan toleransi, kerelaan dan jiwa besarnya, sehingga terwujud konsensus nasional yang utuh.
Sikap Kita

Kita sebagai muslimin yang ber-Pancasila dan sebagai warga Negara Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila dan UUD 1945 apalagi kita Muhammadiyah harus memahami sejarah perjuangan umat islam Indonesia melawan penjajah, sejarah Muhammadiyah, sejarah kemerdekaan, sejarah politik Indonesia, sejarah perkembangan agama-agama di Indonesia.

Lakon-lakon dalam sejarah dapat diputar-balik, dapat dipergunakan sebagai senjata; tergantung di tangan siapa senjata itu. Jika senjata itu berada di tangan perampok, maka masyarakat akan jadi resah. Jika senjata berada di tangan aparatur keamanan yang terpercaya, amanlah masyarakat.

Pancasila sebagai yang sekarang ini, dan yang pernah ditafsirkan secara menyeleweng, sebenarnya adalah isi dari Muqaddimah UUD 1945. Mirip dengan cara yang dipakai terhadap muqaddimah AD Muhammadiyah, yang dirumuskan dalam pokok-pokok pikiran, yaitu: 1. Bertauhid, 2. Bermasyarakat, 3. Islam satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama, 4. Menjunjung tinggi Agama Islam sebagai ibadah, 5. Ittiba’ kepada langkah dan perjuangan Nabi, dan 6. Ketertiban organisasi.

Ki Bagus Hadikusuma dan Prof. KHA. Kahar Muzakir keduanya dari Muhammadiyah, dudu dalam team 9 orang yang terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, Abikusno Tjokrosujuso, Wachid Hasyim, Moh. Yamin dan Max Maramis.

Dengan demikian dalam menetapkan konsensus nasional itu 2 tokoh besar Muhammadiyah yang sudah duduk dalam panitia 9, dan seorang duduk dalam PPKI (tidak merangkap dalam team 9 yaitu Mr. Kasman Singodimejo). Jadi Muhammadiyah terwakili dalam menetapkan konsensus itu.

Kita murnikan makna ke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang menurut Ki Bagus bermakna tauhid. Kita murnikan sila-sila yang lain dengan cara pengamalan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dan jika persandingkan dengan Muqaddimah AD Muhammadiyah, maka makna Pancasila bagi Muhammadiyah adalah mirip dengan makan Muqaddimah AD Muhammadiyah dan kepribadian Muhammadiyah.

Dan bagi Muhammadiyah pengamalan Muqaddimah AD Muhammadiyah dan kepribadian Muhammadiyah telah nyata, konkrit, ini berarti bahwa sebenarnya Muhammadiyah itu sudah mengamalkan Pancasila secara benar dan murni.
Ki Bagus jugalah yang memprakarsai dan membuat konsep Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Jadi sudah pas!.


Sumber: Suara Muhammadiyah No. 8/63, tahun 1983

Post a Comment for "Kunci Pancasila Di Tangan Ki Bagus Hadikusuma"