Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tidak Asal Tulis



Sebelum saya nulis artikel selanjutnya, perkenankan bagi saya untuk mengucapkan salam hangat bagi semua Mahasiswa tingkat akhir di seluruh Indonesia. hehehe (ngopas acara Dahsyat).

Ini berawal dari kegalauan yang belakangan hari saya rasakan saat-saat tinggal menghitung beberapa bulan lagi saya berada di penjara suci ini. Sambil gosrek-gosrek referensi untuk memulai bertarung dengan risalah. Waktu itu juga saya mencoba untuk memetakan apa yang akan saya lakukan setelah dari PUTM. Tapi tiba-tiba muncul dalam benak saya beberapa untaian kata yang saling menyambung menjadi sebuah kalimat yang akhirnya saya ukir menjadi sebuah artikel. Ahh, dari pada bertele-tele kelamaan, membosankan, bikin boring mendingan langsung saja, oke. hehe. Check this out... :) 

Sudah diketahui bahwa Perguruan Tinggi Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta (PUTM) adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan atas dasar kekhawatirannya para bapak-bapak Pimpinan Muhammadiyah dulu akan kurangnya ulama-ulama dikalangan persyarikatan. Juga karena dirasa penting suatu pengkaderan dalam sebuah organisasi yang itu akan menentukan nasib sebuah organisasi di masa depan. Dan ini adalah sebuah alternatif untuk mempersiapkan kader-kader ulama yang mempunyai kapabilitas-kapabilitas maupun kredibilitas di bidang Keagamaan.

Tapi dengan berjalannya waktu, PUTM mengalami sedikit "pergeseran". Berawal dari kegundahan angkatan terdahulu yang mereka itu khawatir setelah lulus dari PUTM akan menjadi apa??? Apakah akan langsung mendapat gelar Ulama???. Sementara PUTM itu sendiri tidak memberikan jaminan gelar ataupun legitimasi sebagai seorang pengajar. Yang itu dibutuhkan untuk seoarang pengajar guru agama di lembaga-lembaga kependidikan persyarikatan ataupun di lembaga pemerintahan. Juga asumsi masyarakat adalah orang yang bergelar adalah orang yang berilmu. Dari situlah angkatan terdahulu mulai angkat bicara kepada para pimpinan tentang perlunya pemberian gelar atau legitimasi pada para Tholabah yang sudah lulus dari PUTM.

Singkatnya, mulailah PUTM mangadakan MoU (Memorandum of Uderstanding) dengan perguruan tinggi Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad dahlan (UAD) pada hari selasa tanggal 1 Juli 2008 bertepatan dengan tanggal 26 Jumadil Akhir 1429 H. Yang ditanda tangani oleh kedua rektor UMY dan UAD dan perwakilan dari pihak PUTM ditanda tangani oleh ketua Majlis Tarjih PP Muhammadiyah Bapak Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. Setelah perjanjian itu terjadi PUTM mulai bisa merasakan keuntungan dari Nota Kesepahaman tersebut. Para alumni PUTM sekarang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mereka pun bisa mendapatkan legitimasi dan gelar sebagai tenaga pendidik. Yang nantinya akan memepermudah mereka dalam mencari ma’isyah.

Tapi terlepas dari semua itu, semakin lama PUTM seperti larut dalam kepentingan-kepentingan yang itu kurang menunjang atau mendukung kemajuan PUTM sebagai pencetak kader-kader ulama yang faqih dalam ilmu agama yang itu salah satunya harus ditempuh dengan cara menguasai ilmu-ilmu alat sebagai jalan dalam beristinbath hukum seperti ilimu nahwu, ushul fiqh, ulumul hadis dll. Tapi dalam realitanya ajaran-ajaran tersebut mulai tampak kurang dan memang dirasa kurang oleh para Tholabah sendiri. Hal itu terbukti dari banyaknya mata kuliah-mata kuliah dari luar yang sifatnya hanya pendukung saja, dan memang itu semua sudah menjadi konsekuensi PUTM dalam MoU. Sehingga kefokusan yang dulunya terpaku pada ilmu-ilmu pondasi dasar sebagai pencetak ulama mulai kabur. Padahal, lulusan-lulusan PUTM sangat diharapkan di masyarakat sebagai tempat mereka dalam menambah dan memperdalam pemahaman tentang al-din  ini. Hal itu terbukti dari kebanyakan paradigma masyarakat bahwa alumni PUTM itu serba bisa. Tapi, sekali lagi bahwa PUTM pada masa dewasa ini sudah terdapat banyak pergeseran yang mungkin itu dianggap oleh para bapak-bapak pengurus di sana sebagai bentuk langkah-langkah dalam memajukan lembaga pendidikan ini. Tapi kalau mungkin boleh dikatakan bahwa PUTM ini sudah kehilangan manhaj-nya yang menjadi ciri khas tersendiri dalam mendidik kader-kadernya. 

Oleh karena itu, bagi calon-calon dan para Thalabah PUTM harus benar-benar memanfaatkan dan berani mental dan fisik sehingga dalam pembelajaran kelak di PUTM tidak sia-sia. Terkadang memang tak sedikit diantara kita yang banyak mengeluh atas ke-kurang jelasan dari sistem pendidikan ini, tapi yakinlah jika kita hanya banyak mengeluh niscaya yang kita dapat kelak juga keluhan-keluhan dari masyarakat. Maka dari itu perbaiki orientasi belajar kita di PUTM ini, tetap jaga semangat dan istiqamah dalam bekerja keras menuntut ilmu.

Post a Comment for "Tidak Asal Tulis"