Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fitnah (Tuduhan Palsu)


Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering dihadapakan pada banyak permasalahan-permasalahan yang terkait dengan hubungan antar individu atau kelompok. Dengan semakin meningkatnya tuntutan hidup terkadang membuat seseorang untuk bertindak semena-mena dengan tidak memperhatikan efek psikologis bagi orang lain. Seperti karena sifat iri dan dengki kepada orang lain seseorang bisa berbuat sesuatu untuk menjatuhkan seseorang tersebut dengan cara menghina atau mencemarkan nama baik orang tersebut. Padahal seharusnya manusia itu hidup rukun, saling tolong menolong, saling memberi toleransi dan lain sebagainya seperti yang telah diajarakan oleh agama islam melalui kitab-kitabnya dan utusan-utusannya. Dalam kaitannya masalah ini penulis ingin lebih mengerucut membahas tentang bab penghinaan yaitu mengenai fitnah. Apa itu fitnah? Bagaiamana pengaturan tentang pidana fitnah dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)? Bagaiamana pandangan islam tentang tindak pidana fitnah?. Dari pertanyaan-pertanyaan di atas penulis akan menjawabnya pada bab berikutnya.

Semoga dengan adanya makalah ini penulis maupun pembaca dapat menambah khazanah keilmuan kita dan menjadikan kita lebih lebih berhati-hati ketika ingin berbuat sesuatu.

A. Apa itu fitnah??

Kaitannya masalah tentang fitnah pasti terdapat unsur penghinaan. Ini berasal dari kata hina yang berarti rendah kedudukannya. Jadi penghinaan itu adalah proses atau perbutan menghinaa itu sendiri. Sedangkan fitnah dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Dan bila digunakan dalam kata kerja berarti mempunyai makna menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan dan sebagainya). Keduanya mempunyai sifat yang sama terletak baik pada perbuatannya menyerang, objeknya kehormatan dan nama baik, maupun kesengajaan baik yang ditujukan pada perbuatan maupun yang ditujukan kepada akibat. Meskipun fitnah perbuatan materilnya (mengajukan pengaduan dan pemberitaan palsu) berbeda dengan perbuatan materil pada pencemaran (menyerang kehormatan dan nama baik) namun sifat kedua kejahatan itu adalah sama. Keduanya menyerang rasa harga diri atau martabat dan harga diri orang lain mengenai kehormatannya dan mengenai nama baiknya, meskipun didalam pengaduan fitnah akan menjatuhkan martabat dan harga diri orang lain mengenai kehormatannya dan mengenai nama baiknya, meskipun didalam pengaduan fitnah tidak tertulis unsur mengenai kehormatan dan nama baik orang.

B. Pengaturan fitnah dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Dari penjelasan di atas sudah barang tentu bahwa fitnah adalah termasuk tindakan pidana. Yang berlaku hukum bagi siapa yang melakukannya. Tindak pidana fitnah juga sudah ada dan juga diatur di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHAP). Disebutkan dalam BAB XVI Penghinaan pasal 311 (1): “Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan untuk membuktikannya, dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. Juga disebutkan dalam pasal 317 (1): “Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun”.

Pengaduan fitnah seperti dalam rumusan di atas, jika dirinci maka terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:

1. Unsur objektif:
a. Perbuatan:
- Mengajukan pengaduan
- Mengajukan pemberitahuan.
b. Caranya:
- Tertulis
- Dituliskan
c. Objeknya tentang seseorang.
d. Yang isinya palsu.
e. Kepada penguasa.
f. Sehingga kehormatannya atau nama baiknya terserang.

2. Unsur subjektif: Dengan sengaja

Ada dua bentuk tingkah laku dalam pengaduan fitnah, ialah mengadukan pengaduan atau mengadukan, dan mengajukan pemberitahuan atau melaporkan. Kedua perbutaan ini mempunyai sifat yang sama, ialah menyampaikan informasi kepada penguasa tentang seseorang yang isinya palsu. Perbedaan antara dua perbuatan itu diadakan berhubung dengan sistem KUHP yang membedakan antara tindak pidana aduan dan tindak pidana bukan aduan yang buasa disebut tindak pidana biasa.

Unsur tertulis dan dituliskan, merupakan dua cara mengajukan pengaduan atau pemberitahuan itu. Secara tertulis maksudnya si pembuat yang mengadukan atau melaporkan dengan membuat tulisan (surat), ditanda tanganinya kemudian disampaikan kepada pejabat/penguasa. Mengajukan secara tertulis ini tidak saja berarti menyampaikan langsung oleh si pembuat kepada penguasa, tetapi bisa juga disampaikan dengan perantaraan kurir atau melalui kantor pos, atau telegram, bahkan juga dapat melalui pesan SMS atau mengirimkan rekaman kaset.

Sedangkan yang dimaksud menyampaikan dengan dituliskan, ialah si pembuat datang menghadap kepada penguasa yang berwenang. Kemudian menyampaikan pengaduan atau pemberitahuan tentang seseorang yang disertai permintaan pada pejabat tersebut agar supaya isi pengaduan atau pemberitahuannya dituliskan. Inisiatif untuk dituliskannya pengaduan atau pemberitahuan harus dari si pembuat, bukan dari pejabatnya.

Tentang apa yang diadukan atau diberitahukan adalah mengenai seseorang tertentu, bukan perbuatan seseorang, dan isinya adalah palsu. Jadi yang palsu atau tidak benar bukanlah perbuatan yang dilaporkan, tetapi orangnya yang dilaporkan atau diadukan itu yang palsu. Misalnya ada pencurian, si A mengajukan pelaporan tentang adanya pencurian dirumahnya dan dia menyebut si B sebagai pembuatnya, padahal diketahuinya bukan si B, ini palsu karena yang benar adalah si C. Tentu saja kehormatan atau nama baik si B tercemarkan karena itu. Bisa saja terjadi bahwa pencurian yang dilaporkan memang benar-benar ada.

Perbuatan apa yang dilaporkan itu adalah segala perbuatan yang memalukan orang, maka pejabat yang menerima pengaduan atau pemberitahuan itu tidaklah harus pejabat kepolisian, atau pejabat kejaksaan. Boleh pejabat administratif, asalkan pejabat administratif tersebut oleh aturan atau kebiasaan umum diperkenankan atau berwenang untuk menerima pengaduan atau pemberitahuan serta berwenang menanganinya. Misalnya pejabat Kepala Desa.

C. Pandangan Islam Tentang Tindak Pidana Fitnah

Islam mengajarkan kepada manusia untuk saling berbuat baik dengan saling tolong menolong, saling memahami, saling menanggung, dan saling toleransi. Dengan melakukan perbuatan tersebut maka akan tercipta suasana masyarakat yang tentram dan damai karena tidak ada penyait hati yang melekat pada mereka seperti hasad, iri, dengki dan lain sebagainya.
Allah SWT menjelaskan bahwa fitnah itu lebih besar bahayanya dari pada pembunuhan, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 191:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir”.

Juga dalam surat Al-Baqarah ayat 217:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Dalam kaitannya dengan perkara fitnah maka dalam islam terdapat juga tindak pidana yang mempunyai unsur fitnah (tuduhan palsu) yaitu al-qadzfu.

Qadzaf secara harfiah berarti melemparkan sesuatu. Dan dalam kamus al-Munawir dalam bentuk fi’il (kata kerja) berarti memfitnah sedangkan dalam bentuk masdar (objek) berarti perbuatan fitnah atau pemfitnahan. Istilah qadzaf dalam hukum islam adalah tuduhan terhadap seseorang bahwa tertuduh telah melakukan perbuatan zina. Menurut para ulama ada bebrapa pendapat:

1) Hanafiyah dan Hanabilah: Menuduh berbuat zina
2) Syafiiyah: Menuduh berbuat zina diiringi dengan ejekan, hinaan, atau celaan (fi ma’radzit ta’ir)
3) Malikiyah: Menuduh seseorang (muslim dan merdeka) tidak memiliki garis keturunan (nasab) dari ayahnya atau kakeknya, dan atau menuduh berbuat zina.

Dasar Hukum Penuduhan (al-Qadzfu)

1. Tentang larangan menuduh dan sanksinya. QS. An-Nuur [24]: 4

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”.
2. Perintah mendatangkan saksi. QS. An-Nuur [24]: 13

لَوْلَا جَاؤُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاء فَأُوْلَئِكَ عِندَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”.
3. Sanksi penuduh di akhirat. QS. An-Nuur [24]: 19

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”.
Juga sabda Rasulullah saw:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwasanya: Rasulullah saw bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang bisa membinasakan kamu, yaitu menyebabkan kamu masuk neraka atau dilaknat Allah. Para sahabatnya berkata: Wahai Rasulullah! Apakah tujuh perkara itu? Rasulullah saw bersabda: Menyekutukan Allah, melakukan perbuatan sihir, membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, dan memfitnah perempuan-perempuan yang baik melakukan perbuatan zina”. (HR. Bukhari)

Berdasarkam garis hukum di dalam Al-Quran yang diungkapkan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan tidak mendatangkan empat saksi, maka sanksi hukum baginya delapan puluh kali dera.
2. Janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orang-orang fasik.

D. Kesimpulan

Keduanya baik dalam hukum positif (KUHP) maupaun dalam pandangan hukum islam (fikih jinayah) sama-sama melarang perbuatan fitnah (tuduhan palsu), karena akan menimbulkan pencemaran nama baik atau menurunkankan kehormatan seseorang sehingga seseorang itu dianggap hina dan rendah kedudukannya.

Dari segi sanksi, bahwa dalam islam hukuman cambuk dan tidak diterima kesaksiannya untuk selama-lamanya lebih menimbulkan efek jera dibandingkan dengan sanksi yang terdapat dalam hukum positif yaitu hanya dipenjara paling lama 4 tahun.

Bahwa dalam hukum positif tidak mensyaratkan empat saksi dalam perkara pengaduan, sedangkan dalam hukum islam jelas harus mendatangkan empat saksi dalam perkara pengaduan.

Post a Comment for "Fitnah (Tuduhan Palsu)"