Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dakwah bi Lisan al Haal

Tanya Jawab Tentang Dakwah bi lisan al haal
1. Apa yang dimaksud dakwah bi lisan al haal?
Secara terminologi dakwah bi llisan al haal adalah “Memanggil, menyeru ke jalan Tuhan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat dengan menggunakan bahasa keadaan manusia yang didakwahi (mad’u)” atau “memanggil, menyeru ke jalan Tuhan untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat dengan perbuatan nyata yang sesuai dengan keadaan manusia”. Kegiatan dakwah melalui aksi atau tindakan/perbuatan nyata. (M. Yunan Yusuf) ; Dakwah dengan perbuatan nyata. (E. Hasim dalam Kamus Istilah Islam )

2. Apakah Rasulullah pernah berdakwah dengan metode bi lisan al haal?

Pernah, diantaranya Rasulullah pernah berdakwah dengan metode ini ketika mendirikan masjid Quba di Madinah juga ketika terjadinya perjanjian HUdaibiyah

3. Dimana dakwah bi lisan al haal ini bisa diterapkan?

Untuk menggunakan sebuah metode dakwah tentu sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakat setempat, harus dilihat terlebih dahulu dari berbagai segi. Apabila sudah diketahui bahwa memang masyarakat setempat lebih bisa menerima dakwah dengan perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan nyata dibandingan hanya dengan ceramah-ceramah saja maka metode dakwah ini bisa digunakan.

4. Kapan dakwah bi lisan al haal bisa dapat dilakukan?

Metode dakwah ini bisa dilakukan tatkala masyarakat membutuhkan tidak hanya sekedar ceramah tetapi masyarakat juga membutuhkan teladan bagi mereka dalam memajukan kualitas keagamaannya dan kehidupannya.

5. Apa tujuan dari dakwah bi lisan al haal?

a. Untuk mebingkatkan kualitas hidupnya.
b. Untuk meningkatkan kualitas keagamaannya.

6. Bagaiamana langkah-langkah dalam melakukan dakwah bi lisan al haal?

a. Mengunjungi & mengamati objek untuk mengetahui maslah yang dihadapi dan dirasakan mad’u.
b. Identifikasi masalah
c. Menentukan prioritas masalah yang segera diselesaikan.
d. Mengorganisasi potensi mad’u.
e. Proses penyelsaian masalah pelaksanaan dakwah

7. Bagaimana cara mengaplikasikan dakwah bi lisan al haal dalam koteks masa kini?

KH. Badrudin Hsbuki merumuskan berbagai persoalan ummat islam di Indonesia sebagai berikut:
a. Keterbelakangan sosial ekonomi
b. Keterbelakangan dalam bidang pendidikan
c. Lemahnya etos kerja ummat Islam. Etos kerja ini menyangkut penerapan disiplin, penghargaan terhadap waktu, penentuan orientasi ke depan dan kemampuan kerja keras dengan penuh semangat.
d. Belum terealisasinya ukhuwah islamiyah
Dakwah yang dibutuhan adalah kerja nyata yang mampu menimbulkan perubahan-perubahan sosial kemasyarakatan dan mampu membrikan solusi bagi permasalahn ummat.
Contoh: Muhammadiyah dengan mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, rumah sakit, rumah penyantun, surat kabar dan majalah. NU dengan pesantren-pesantrennya.

8.    Jelaskan pendekatan yang dilakukan sehingga bisa terwujud dakwah bi lisan al haal?

Dalam konteks dakwah bi Lisan al-Haal, pemahaman tentang kebutuhan sasaran dakwah mutlak diperlukan. Contoh berdakwah di lingkungan masayrakat miskin tidak akan efektif dengan hanya berceramah tapi akan lebuh efektif bila dakwah dilakukan dengan menyantuni mereka, memberikan makanan, pakaian dan sebagainya.

9.    Sebutkan dan jelaskan unsur yang menjadi efektifitas dakwah bi lisan al haal!

a. Dakwah bi lisan al haal: sebuah metode dakwah, yaitu metode dakwah dengan menggunakan kerja nyata.
b. Prinsip penggunaan metode dakwah, hal ini sudah tertmaktub dalam surat An-Nahl: 125.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [١٦:١٢٥]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Selain itu juga dari hadis Nabi saw:

مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْب فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ (متفق عليه)

“Siapa diantaramu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan kekuasaannya, jika tida sanggup maka dengan nasihat (lisan), jika tidak sanggup juga maka dengan batinnya dan itulah selemah-lemahnnya iman”.
c. Faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan metode dakwah. Sebagai metode dakwah metode dakwah bi lisan al haal juga dipengaruhi oleh factor-faktor penggunaan metode. Oleh karena itu bentuk pelaksanaan dakwah bi lisan al haal bersifat kondisional.
d. Uswah dalam dakwah bi lisan al haal
Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), maka  kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau majusi”.

Firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Perilaku dan amal para da’i adalah cerminan dari dakwahnya. Meraka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Karena itu kepribadian seorang da’i mempunyai pengaruh besar bagi keberhasilan dakwah dan penyebaran risalahnya.
Dakwah bi Lisan al-Haal adalah dakwah dengan perbuatan nyata. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya unsur keteladanan (uswah) merupakan unsur yang paling dominan.
e.    Pendekatan kebutuhan dalam dakwah bil haal, idealnya pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas keislamannya sekaligus juga kualitas hidupnya. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh dakwah bi lisan la haal. Dakwah bi lisan al haal ditentukan pada sikap, perilaku dan kegiatan-kegiatan nyata interaktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhan yang secara langsung atau tida langsung dapat mempengaruhi pebingkatan kualitas keberagaman.

10. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan metode dakwah!

a. Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya.
b. Sasaran dakwah (masyarakat atau individu) dari berbagai segi.
c. Situasi dan kondisi yang beraneka ragam.
d. Media atau fasilitas yang tersedia dengan berbagai macam kualitas dan kuantitasnya.
e. Kepribadian dan kemampuan da’i.
Kisah Rasulullah ketika berdakwah bi lisan al haal

Rasulullah pernah mencontohkan dakwah bi lisan tatkala terjadi perjanjian hudaibiyah. Yang isi perjanjian tersebut adalah:

a. Perjanjian gencatan senjata antara kedua belah pihak berlaku selam sepuluh tahun, terhitung mulai hari ditanda tanganinya perjanjian tersebut oleh kedua belah pihak.
b. Seseorang dari kaum musyrikin  Quraisy yang memeluk islam kemudian bergabung dengan Rasulullah saw jika ia tidak seizing walinya ia akan dikembalikan kepada mereka. Sebaliknya, sesorang dari kaum muslimin yang kembali pada kepercayaan semula (murtad) kemudian ia kembali bergabung kepada kaum musyrikin Quraisy ia tidak akan dikembalikan kepada kaum muslimin.
c. Pihak Quraisy tidak akan mengahalangi orang dari kabilah mana pun yang bersekutu dengan pihak Rasulullah saw. Demikian pula sebaliknya Rasulullah tidak akan mengahalangi dari kabilah Arab mana pun yang hendak bersekutu dengan kaum musyrikin Quraisy.
d. Setelah perjanjian tersebut ditandatangani, Rasulullah saw bersama semua rombongan akan segera meniggalkan Hudaibiyah dan pulang ke Madinah. Mereka berhak memasuki Makkah pada musim haji tahun mendatang dengan syarat: hanya selama tiga hari tinggal di Makkah dan selama di Makkah tidak akan membawa pedang terhunus.

Sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, di tahun berikutnya Rasulullah saw sudah dapat memasuki Makkah buat pertama sesudah hijrah dengan rombongan 2000 orang lebih, dua kali lipat dari tahum sebelumnya.

Mereka memasuki kota Makkah dalam rangka menunaikan umrah yang terkenal dengan nama: Umratul Qadha. Mereka melaksanakan ritual umrah, berpakaian umrah serba putih, menyerukan talbiah, tawaf, sa’i dan sebagainya dengan disaksikan oalh kaum musyrikin Quraisy dari dekat maupun dari kejauhan.

Selama tiga hari lamanya Rasulullah beserta umatnya tinggal di kota Makkah. Selama itu pula penduduka dapat menyaksikan tingah laku dan gerak-gerik mereka dari dekat. Dengan akhlak dan perilaku mereka yang mulia banyak menyadarkan musyrikin Quraisy bahwa kaum muslimin bukanlah pengacau dan pembangkang seperti yang mereka kira selama ini. Di antara pemuka Quraisy yang mengikrarkan keimanannya setelah pelaksanaan umrah tersebut adalah Umar bin Ash, Khalid bin Walid dan Usman bin Thalhah seorang pemimpin Quraisy. Ketiganya diikuti oleh putra-putra Makkah yang lain, perorangan atau kelompok.

Kejadian tersebut menjelaskan kepada kita betapa lisan al haal yang tidak bersuara tapi tidak kurang fasih dengan lisan al Maqal “lisan al haal abyanu min lisan al Maqal”. Dakwah bi lisan al haal seperti yang dilakukan Rasulullah dalam ilustrasi kisah tersebut ternyata mampu menyentuh hati sanubari  musyrikin Makkah sehingga mereka berbondong-bondong masuk islam.

Selain perjanjian Hudaibiyah, dakwah Rasulullah yang menggunakan metode lisan al haal masih sangat banyak. Seperti: pembangunan masjid Quba ketika Rasulullah baru tiba di Madinah, mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah dan sebagainya.

Post a Comment for "Dakwah bi Lisan al Haal"