Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Urgensi Ilmu Bagi Kaum Muslim

Dimasa yang serba modern ini kita dituntut untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan zaman agar kita tidak terseret oleh zaman itu sendiri. Bahkan kita bisa tenggelam dalam pemikiran-pemikiran baru yang muncul seperti faham libelar, sekuler dll. Islam telah mewanti-wanti umat muslim mengenai hal ini dengan cara menyuruh umat muslim untuk mencari ilmu karena dengan ilmu umat muslim tidak akan mudah tersesat. Ilmu juga adalah sebagai bentuk bukti iman kita kepada Allah. Karena iman tanpa ilmu maka kita tidak membuktikan iman kita sedangkan ilmu tanpa iman maka ilmu itu tidak ada tujuannya. Akhirnya banyak orang yang berilmu tetapi ilmu itu disalahgunakan Allah SWT berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ [٤٧:١٩]

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Imam al-Bukhari berdalil dengan ayat ini untuk menunjukan wajibnya mempunyai ilmu (pengetahuan) sebelum mengeluarkan ucapan dan melakukan perbuatan. Ini dalil yang tepat yang menunjukan bahwa manusia hendaknya mengetahui terlebih dahulu, dan baru kemudian mengamalkannya.

Rasulullah saw juga bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه)

“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibn Majah juz I No. 224)

Hukum wajib menuntut ilmu bagi setiap muslim ini dibagi menjadi dua:

  1. Fardhu ‘ain, menuntut ilmu hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslim, jika menjadi prasyarat untuk mengetahui sebuah ibadah atau mu’amalah yang hendak dikerjakan. Dalam kondisi seperti ini, wajib baginya untuk mengetahui bagaimana caranya ibadah kepada Allah SWT dan cara bermu’amalah.
  2. Fardhu kifayah, thalabul ilmi pada asalnya (hukumnya) fardhu kifayah. Jika sudah ada sebagian orang yang mengerjakan maka bagi yang lain hukummnya sunnah. Hal-hal ini (berkaitan dengan thalabul ilmi) yang tidak termasuk dalam fardhu ‘ain di atas hukumnya adalah fardhu kifayah. Seorang thalabul ilmi menyadari bahawa ia menjalankan sebuah ewajiban (fardhu kifayah) agara ia memperolah pahala orang yang menjalankan kewajiban, di samping itu juga mendapatkan ilmu.
Dengan ilmu kita bisa mengetahui hal-hal baru, bisa mengontrol diri kita supaya tidak larut oleh zaman, dengan ilmu juga kita tidak akan bersifat taqlid, yaitu meniru apa yang sudah ada tanpa mengetahui ilmunya. Sifat seperti ini yang akan menutup potensi pemikiran manusia yang harusnya dinamis dan terbuka akan ilmu pengetahuan menjadi statis, kolot dan tidak mau berpikir sebagai pembaru akibatnya dia terjerumus dalam jurang kemunduran. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [١٧:٣٦]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Sebagai contohnya jika seorang murid telah menerima sesuatu hal dari gurunya, dia tidak mau belajar lagi dan tidak mau mengembangkan ilmu yang didapat dari gurunya. Dia hanya sebatas apa yang disampaikan oleh gurunya saja dan menganggap kalau sesuatu yang keluar bukan dari gurunya dianggapnya salah padahal yang keluar dari gurunya itu belum tentu kebenarannya. Sifat seperti inilah yang disebut taqlid, dia tidak mau menerima ilmu atau kebenaran dari orang lain.

Padahal sudah jelas ayat di atas menjelaskan prinsip dasar syar’i yang benar tentang begaimana sikap seorang muslim ketika mendengar, melihat atau meyakini sesuatu. Semua itu harus dibangun diatas ilmu, tiada alternatif lain. Jelasnya makna ayat tersebut adalah janganlah anda mengikuti apa yang anda tidak mengaetahui pengetahuan tentangnya. Maka yang setiap dengar atu kita lihat harus kita simpan dahulu didalam hati kita, bahkan kita wajib meniliti dan memikirkannya. Apabila ternyata kita dapat mengathuinya secara jelas, barulah kita yakini. Tetapi kalu tidak, kita tinggalkan seperti sediakala, dalam keadaan penuh keraguan, dugaan-dugaan serta prasangka yang tidak bisa dianggap (sebagai apa-apa). Al-Imam Bakr bin ‘Abdullah  Al-Muzani berkata: “Hati-hatilah jangan sampai kamu mengatakan sesuatu yang apabila benar perkataanmu, maka kamu tidak akan mendapatkan pahala, dan apabila salah perkataanmu maka kamu akan berdosa. Itulah dia su’uzhan (berprasangka buruk). (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqath VII/210 dan Abu Nu’am dalam Al-Hilyah II/226). Adapun hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi saw bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ {صلى الله عليه وسلم} لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذَرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ اليَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

(رواه البخاري ومسلم)

“Dari Abu Sa’id ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: sungguh kalian akan mengikuti sunnah (jalan) nya orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis biawak), niscaya engkau sungguh akan mengikutinya. Kami berkata: wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?. Beliau menjawab: siapa lagi (kalau bukan mereka).”(HR. Bukhari Muslim juz II No. 1753).

Ada beberapa urgensi dari ilmu yang akan membuat kita semakin sadar bahwa memang setiap muslim itu wajib menuntut ilmu.

1. Sarana paling utama menuju khidupan

Urgensi ilmu dalam kehidupan seorang mukmin yang bertakwa adalah hal yang tidak dapat disangkal. Karena ketakwaan itu sendiri identik dengan kemampuan merealisasikan ilmu yang shahih (benar) yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman pendahulu umat ini yang shaleh.

2. Amalan yang tidak terputus pahalanya

Ilmu merupakan sesuatu yang paling berharga bagi setiap muslim, sebab ilmu akan memelihara pemiliknya dan merupakan beban bawaan yang tidak berat, bahkan akan semakin bertambah bila diberikan atau yang tidak berat, bahkan akan semakin bertambah bila diberikan atau digunakan, serta merupakan amalan yang akan tetap mengalir pahalanya, meskipun pemiliknya telah wafat, sebagaiamana sabda Rasulullah saw:

عن أَبي هريرة قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - :إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رواه مسلم .

“Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila anak Adam meniggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

3. Pondasi Utama sebelum berkata dan beramal

Ilmu memiliki kedudukan yang agung dalam agama ini, oleh karenanya ahlus sunnah wal jama’ah menjadikan ilmu sebagai pondasi utama sebelum berkata-kata dan beramal sebagaimana disebutkan oleh imam Bukhari rahimahullah dalam shahihnya berdasarkan firman Allah SWT:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ [٤٧:١٩]

 “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”(QS. Muhammad [47]:19)
Syaikh shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dengan ayat ini Imam Bukhari berdalil bahwa kita harus memulai dengan ilmu sebelum berkata dan beramal. Ini merupakan dalil naqli yang jelas bahwa manusia berilmu terlebih dahulu sebelum beramal dan berkata. Sedangkan secara aqli hal yang membenarkan bahwa ilmu harus dimiliki sebelum beramal dan berkata karena perbuatan dan perkataan tidak akan dinilai disisi Allah SWT sebagai suatu ibadah jika tidak sesuai dengan syari’at. Sedangkan seseorang tidaklah mengetahui  apakah amalannya sesuai dengan syar’at atau tidak melainkan dengan ilmu”.

4. Ilmu merupakan kebutuhan rohani

Kebutuhan rohani terhadap ilmu melebihi kebutuhan jasmani terhadap makan dan minum, sebagiaman perkataan Imam Ahmad rahimahullah: “Kebutuhan manusia akan ilmu melebihi kebutuhannya akan minuman sebab makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau du kali dalam sehari, namun ilmu dia dibutuhkan sepanjang tarikan nafasnya.” Sebab rohani merupakan penggerak utama bagi jasmani jika rohani telaj kering dari ilmu maka pada hakikatnya dia telah mati sebelum mati dan manusia seperti ini ibarat mayat-mayat yang berjalan atau hidup bagaikan binatang ternak yang tida dapat mengambil pelajaran dan pengajaran. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [٧:١٧٩]

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]: 179)

Ulama rabbani merupakan manusia yang memiliki andil yang paling besar dalam memenuhi kebutuhan rohani mereka, oleh karenanya jika ulama telah meninggal dunia, maka hal itu merupakan musibah besar bagi kaum muslimin sebab akan hilanglah kesempatan bagi umat untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka yang akan mengakibatkan umat ini tenggelam dalam lautan syahwat dan syubhat. Hasan Al-Basri rahimahullah berkata: “Kalaulah bukan karena Ulama, maka jadilah manusia seperti binatang.”

5. Salah satu bentu metode tashfiyah dan tarbiyah bagi umat agar tidak menjadi alat permainan iblis dan bala tentaranya.

Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Ketahuilah bahwa tipu daya iblis paling awal adalah meninggalkan manusia dari ilmu , sebab ilmu adalah cahaya, dan jika padam cahaya lentera mereka, dengan mudah ilblis akan membenamkan mereka dalam kedzaliman (kegelapan) sekehendaknya.

Post a Comment for "Urgensi Ilmu Bagi Kaum Muslim"