Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ikhlas, Sikap Muslim Terbaik

Allah berfirman dalam surat al-Kahfi pada ayat ke- 110:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhan-Nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada tuhan-Nya.” (Q.S. al-Kahfi: 110)

Kata ikhlas bukan jargon yang asing bagi telinga kita. Hampir setiap hari kita mendengar kata ini. Di mana berada kita sering mendengar kata tersebut di tempat kerja, tempat bermain, dan instansi-instansi. Pada kesempatan kali ini khatib akan mengajak jama’ah sekalian untuk lebih mengenal dan memahami makna kata ihklas. Telah kita ketahui bahwasanya segala perbuatan hendaklah dilandasi prinsip keikhlasan tak mengharap “yang lain” kecuali ridha Allah. Prinsip keikhlasan sangat dianjurkan oleh agama, karena ia mengandung makna yang sangat dalam.

Secara harfiah, ikhlas berarti sikap melepaskan diri dari segala sesuatau selain Allah swt. Pada level keyakinan, ikhlas beraarti hanya percaya dan mempercayai Allah Yang Ahad, yang tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah maksud yang dikandung dalam surat al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ .اللَّهُ الصَّمَدُ.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ .وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

“Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa”. Allah adalah tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Q.S. al-Ikhlas: 1-4)

Pada level tindakan, ikhlas berarti berbuat sesuatu semata hanya untuk mencari ridha Allah, bukan untuk tujuan-tujuan yang lain. Artinya, ikhlas adalah kita berbuat sesuatu tanpa pamrih. Pamrih yaitu berbuat sesuatu karena ingin dilihat atau didengar orang dan pamrih inilah yang sering kali mendorong kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatau. Pamrih dalam bahasa agama disbut riya’, sedangkan pamrih untuk didengar, misalnya kita melakukan sesuatu agar namanya menjadi terkenal, menjadi populer dan lain sebagainya disebut sum’ah. Baik riya’ mauapun sum’ah keduanaya termasuk jenis kemunafikan.

Proses peng-Agung-an dan peng-Esa-an yang tersirat dalam sikap keikhlasan, pada tataran individual ia akan membentuk sikap toleran dan suka memaafkan serta menghargai orang lain. Kekurangan yang terakui dalam diri ketika berhubungan dengan Allah, akan membuat kita tidak merasa lebih benar, tidak tinggi hati, dan tidak sombong. Namun, akan membuat kita rendah hati dan toleran terhadap orang lain. Hasilnya kita akan mudah memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menganggap orang lain lebih rendah dan lebih hina. 

Selain itu, kita juga akan terbuka menerima kritikan orang lain terhadap kita. Itu semua karena pengakuan kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan manusia memang tempatnya salah dan lupa. Di sini pulalah letak urgensi konsep raja’dan khauf dalam tradisi islam. Raja’ yakni sikap diri yang selalu berharap akan kemurahan Allah untuk menerima segala amal kita. Di sisi lain kita pun harus mersa khawatir (khauf) kalau-kalau Allah belum menerima amal kita, dikarenakan kekurangan kita atau keikhlasan kita yang belum sempurna. Kalau pengakuan tersebut tertanam pada setiap muslim pasti akan timbul budaya kehidupan sosial yang kondusif, menciptakan ukhuwah islamiyah yang solid dan keharmonisan sosial.

Demikianlah implikasi prinsip ikhlas yang sangat diagungkan islam, karena ia menciptakan kesalehan vertikal antara seorang hamba dengan khaliq-Nya, selain juga mewujudkan kesalehan horizontal anatara sesama manusia. Begitu luhurnya implikasi positif yang ditimbulkan prinsip keikhlasan, maka tak heran bila al-Quran sangat banyak berbicara tentang hal tersebut. Seperti dalam firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ    . . .  

“Dan hendaklah mereka diperintahkan kecuali supaya menyambah Allah dengan tulus ikhlas beragama umtuk Allah semata . . . (Q.S. al-Bayyinah: 5)

Dalam surat an-Nisa: 146 disebutkan:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ  . . .

“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan (ishlah) dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.” (Q.S. an-Nisa: 146)

Melihat pentingnya unsur keikhlasan dalam ibadah sampai-sampai Ali r.a pernah menganjurkan agar para sahabatnya jangan terlalau merisaukan amalan yang sedikit. Karena hal yang lebih utama diperhatikan adalah kegelisahan jiwa akan diterima atau tidaknya amal. Anjuran Ali r.a tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya unsur ikhlas dalam setiap aktifitas penghambaan. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: “Ikhlaslah dalam beramal, dan cukuplah bagimu amal yang sedikit (namun dilakukan dengan ikhlas).

Dalam pandangan al-Ghazali amal yang ikhlas adalah amal yang tidak tercampur dengan hal lain kecuali niat suci lillahi ta’ala. Riya’ dan sum’ah adalah lawan dari ikhlas merupakan pangkal dari kehancuran jati diri manusia. Keduanya melahirkan perasaan iri hati dan hasud yang pada hakikatnya muncul karena ketidakpastian seorang untuk melihat orang lain sukses dan tidak suka melihat oaring lain bahagia. Ketidakpastian ini secara tidak langsung diakibatkan oleh persaan bahwa hanya dirinya sajalah yang boleh bahagia dan sukses. Jadi, pada dasarnya ia tidak ikhlas melihat orang lain mendapatkan karunia dari Allah.

Perasaan tidak ikhlas ini selalu dibisikan setan kepada kita untuk senantiasa menggelincirkan manusia dari jalan Allah. Menggoda kita semua agar melakukan sesuatu bukan untuk mencari ridha Allah. Allah berfirman:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ.

“Iblis berkata: Ya Tuhanku, olah sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Q.S. al-Hijr: 39-40)

Meskipun setan sedemikian caggih dalam menggoda dan menggelincirkan manusia dari jalan yang benar, tapi setan mengakui bahwa hanya orang yang ikhlas sajalah yang tidak mampu digodanya. Setan menyatakan menyerah di hadapan orang-orang yang ikhlas. Yaitu cirinya adalah orang yang di antaranya melakukan sesuatau tanpa pamrih, tampil apa adanya, dan lapang dada atas ketentuan Allah pada dirinya maupun orang lain. Maka, jika mau terbebas dari godaan setan, jadilah orang yang ikhlas!

Post a Comment for "Ikhlas, Sikap Muslim Terbaik"