Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jual Beli Menurut Fikih Muamalah dan KUH Perdata (Bagian 1)


Pengertian jual beli

a.      Menurut fikih muamalah

Secara etimologis jual beli bersal dari bahasa arab al-Bai’ yang makna dasarnya menjual, mengganti dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam prakteknya, bahasa ini terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata al-Syira’ (beli). Maka, kata    al-Bai’ berarti jual, tetapi sekaligus beli.

Sedangkan secara therminologis, adalah tukar menukar harta dengan harta berdasarkan keridhaan. Atau memindahkan kepemilikan (harta) dengan adanya ganti yang diperbolehkan. Para Ulama memberikan definisi yang berbeda-beda.

Ø Di kalangan Ulama Hanafi terdapat dua pengertian: yang pertama, saling tukar menukar harta dengan harta melalui cara tertentu. Yang kedua tukar menukar sesuatu yang diingini dengan sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

Ø Ulama Madzhab Maliki, Syafi’I, dan Hanbali memberikan pengertian, jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan. Definisi ini menekankan pada aspek milik pemilikan, untuk membedakan dengan tukar menukar harta/barang yang tidak mempunyai akibat milik kepemilikan, seperti sewa menyewa. Demikian juga, harta yang dimaksud adalah harta dalam pengertian luas, bisa barang dan bisa uang.

b.         Menurut KUH Perdata

Dalam pasal 1457 KUH Perdata:

“Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan”.

Pengertian hampir sama hanya saja di KUH Perdata pasal 1457 tidak disebutkan berdasarkan keridhaan atau kerelaan, akan tetapi pada pasal 1323 dinyatakan bahwa perjanjian akan batal jika ada unsur paksaan dengan redaksi sebagai berikut: “Paksaan yang dilakukan terhadap orang yang membuat suatu perjanjian, merupakan alasan untuk batalnya perjanjian, juga apabila paksaan itu dilakukan oleh seorang pihak ketiga, untuk kepentingan siapa perjanjian tersebut tidak telah dibuat”. Juga disebutkan dalam pasal 1449 KUH Perdata yang berbunyi : “Perikatan-perikatan yang dibuat dengan paksaan, kekhilafan atau penipuan, menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya”.

B.       Dasar Hukum

Jual beli disyariatkan dalam al-Quran, sunnah dan ijma’ para umat (Ulama). Dalam surat al-Baqarah ayat 275 disebutkan:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Dan sabda Rasulullah saw:
 أَفْضَلُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Artinya: “Sebaik-baik penghasilan (profesi) adalah usaha seseorang dengan tangannya tangannya sendiri dan setiap jual beli yang diterima oleh Allah”. (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Syu’bul Imân Juz 2 Hlm. 434).

Dalam ayat-ayat lain juga dijelaskan:

v Surat al-Baqarah ayat 198

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ.

Artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam . Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat”.

Dalil ini adalah bentuk penegasan terhadap etika dalam melaksanakan jual beli bersamaan dengan ibadah haji. Ayat di atas menceritakan orang Jahiliyah Arab. Sebelum mereka masuk Ilsam, sudah menjadi kebiasaan mereka apabila mereka melakukan haji sekaligus juga melakukan perniagaan. Tapi ketika mereka masuk Islam, banyak yang bertanya kepada Rasulullah menegaskan bahwa boleh melaksanakan jual beli bersamaan dengan ibadah haji, asalkan tidak melupakan esensi dari ibadah haji.[1]

v   Surat al-Nisa ayat 29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Sungguh para ulama telah bersepakat dalam pembolehan jual beli dan pengamalan terhadapnya dari jaman Rasulullah sampai jaman kita sekarang ini.

Logika, Seorang manusia sangat membutuhkan barang-barang yang dimiliki oleh manusia yang lain dan jalan untuk memperoleh barang orang lain tersebut dengan cara bai' dan islam tidak melaran gmanusia melakukan hal-hal yang berguna bagi mereka[2].


12 comments for "Jual Beli Menurut Fikih Muamalah dan KUH Perdata (Bagian 1)"

  1. Berita Forex Indonesia – Bear EUR menerima dorongan baru dari laporan aktivitas sektor jasa dari Jerman dan zona euro yang lamban, sekarang mendorong EUR/GBP lebih jauh dari 0,76. - See more at: http://fbsasian.com/eurgbp-uji-terendah-dekat-07560-pasca-imp/#sthash.EYmA8EXv.dpuf

    ReplyDelete