Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibnu Khaldun (Bagian 1)


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masalah ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah masalah kemanusiaan sehingga berbicara tentang ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah membicarakan salah satu gejala kemanusiaan yang penting. Sebab manusia akan maju kehidupannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, demikian juga sebaliknya manusia akan terbelakang karena keterbelakangannya dalam menguasai ilmu pengetahuan. Di dalam Islam pun diajarkan bahwa orang-orang yang berilmu (pengetahuan) akan memperoleh derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak berilmu. Di dalam al-Quran surat al-Mujadalah ayat 11 Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Kecemerlangan Ibn Khaldun terutama karena rintisannya terhadap sosiologi dan filsafat sejarah yang bukan saja telah menjadikan dirinya sebagai seorang ilmuwan terkemuka di kalangan kaum muslimin, tetapi dia juga seorang ilmuwan yang sangat dihormati di kalangan ilmuwan-ilmuwan non muslim.

Kajian-kajian tentang khazanah keilmuan Islam bagaimanapun juga tidak bisa mengesampingkan nama Ibn Khaldun sebagai seorang ilmuwan yang hidup pada abad pertengahan, yang nyaris selama hidup kedewasaannya diabdikan untu kegiatan-kegiatan politik praktis kecuali hanya bagian kecil saja usianya yang dilewatkan untu menulis karya ilmiah. Namun demikian, apa yang telah dihasilkannya benar-benar telah memberikan warisan yang sangat berharga bagi kajian-kajian keilmuan sesudahnya.

B.    Rumusan Masalah

1.    Sejarah singkat Ibn Khaldun.
2.    Karya-karya Ibn Khaldun.
3.    Ilmu dan klasifikasinya menurut Ibn Khaldun

BAB II

PEMBAHASAN

1.    Riwayat Hidup Singkat Ibn Khaldun

Ibn Khaldun dengan nama panjang Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan secara luas dikenal sebagai pemikir, pelopor, sekaligus bapak sosiologi dan sejrah sains. Dia lahir sekitar tahun 1 Ramadhan 1723 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M di Tunisia. Dengan nama asli Abdullah al-Rahman Ibnu Muhammad. Dia berasal dari keluarga bangsawan, namun bukan bangsa Tunisia asli. Keluarga Ibn Khaldun adalah Imigran dari Seville (wilayah spanyol yang berpenduduk Islam) yang kemudian hijrah ke Tunisia. Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Maroko. Ketika masih kanak-kanak dia belajar membaca al-Quran, tajwid-tajwidnya dan mengahafalkannya di luar kepala serta mempelajari madzhab-madzhab bacaan al-Quran dan tafsirnya. Abdurrahman Ibn Khaldun juga mempelajari ilmu-ilmu syariat seprti ilmu hadis, tauhid dan fikih madzhab Maliki di samping juga mempelajari ilmu-ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah dan kesusastraan. Kemudian dia juga mempelajari ilmu logika, filsafat dan ilmu fisika serta metematika. Dalam pelajaran-pelajarannya Ibn Khaldun membuat kagum guru-gurunya sehingga dia memperoleh pujian dan pengharggan dari mereka karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Inilah yang menjadikannya dalam usia belasan tahun sudah bekerja pada Sultan Barquq seorang kaisar Mesir. Dan meninggal di Kairo pada 808 H/1406 M, setelah lima tahun sebelumnya bertemu dengan Timur Lenk (Tamerlane) di luar tembok Kota Damaskus.

2.    Corak Pemikirannya

Dengan kecerdasannya Ibn Khaldun sangat menyadari pentingnya apa yang telah dia alami dan ketahui dari setiap negara yang dikunjungnya sehingga sering timbul di dalam hatinya untuk menuliskan pengalaman-pengamalannya itu. Namun karena keinginannya yang kuat untuk terlibat dalam dunia politik maka niatnya itupun selalu tertunda.
Dibelakang hari ketika Ibn Khaldun mengundurkan diri untuk sementara dari dunia politik dan menyepi di Qal’at Banu Salamah maka kesempatan yang berharga itu benar-benar dimanfaatkannya dengan baik untuk menuliskan pengalaman dan pengetahuannya yang selama ini terpendam saja. Sehingga dari sanalah Ibn Khaldun dapat menghasilkan karya tulis dengan nilai keilmuan yang sangat tinggi. Dari karya-karyanya nampak sekali bahwa hasil observasinya, baik secara langsung terhadap setiap negara yang dikunjungainya serta suku bangsa yang dikenalinya memberi warna terhadap tulisan-tulisannya.

Sebagai orang yang tertarik pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan, maka pengembarannya ke berbagai tempat merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mengamati secara langsung gejala-gejala sosial, politik dan ekonomi yang terdapat di setiap negara yang dikunjunginya. Dan dalam pengamatannya terhadap berbagai masalah-masalah sosial, Ibn Khaldun selalu mencoba untuk memahaminya dengan menghubungkan fakta-fakta yang didapatinya dengan fakta yang mendahuluinya. Bahkan dalam kajiannya terhadap berbagai gejala sosial yang terjadi senantiasa  dicari kaitan antara fakta tersebut dengan kondisi tempat maupun iklim yang mempengaruhinya. Kalau melihat usahanya untuk memahami fakta yang terjadi untuk menyusun kerangka teorinya, maka Ibn Khaldun jelas menganut pola empiris. Sebab fakta yang terjadi di luar itu diketahui dengan bantuan indera kemanusiaan sehingga memberikan pada manusia pengalaman akan hal yang terjadi di sekitarnya, dan dengan bekal pengalaman indera yang bersentuhan dengan dunia luar itulah yang membuat manusia dapat memperoleh pengetahuan. Sebab bagi Ibn Khaldun pengalaman lewat pancaindera adalah bersifat konkrit dan merupaka dasar unutk memperoleh ilmu pengetahuan, karena itu dia mengatakan bahwa dasar pengetahuan adalah pengalaman persaan dengan perantara pancaindera yang lima.

Namun demikian, Ibn Khaldun tidaklah menganut pola berpikir empiris secara kaku sebab empirisme adalah aliran yang sangat memberi tekanan pada pentingnya pengalaman terutama dalam proses pembuktian. Sementara Ibn Khaldun dalam kajian-kajiannya terhadap fakta-fakta yang ditemukannya juga menggunakan pola rasionalisme. Rasionalisme diperlukan dalam usahanya untuk memahami hubungan gejala yang ada dengan gejala-gejala yang lain ataupun yang terjadi sebelumnya.

Oleh karena itu dalam melihat corak pemikiran Ibn Khaldun dapat dikatakan bahwa dia menganut pola empiris, namun di sisi yang lain dia pun memakai pola rasioanal, hanya saja karena dalam anggapannya bahwa akal itu mempunyai jangkauan yang terbatas sehingga empirisnya lebih dominan daripada rasionalisnya.

3.    Karya-karya Ibn Khaldun

Sebagai seorang ilmuwan yang terkemuka dengan gagasan yang selalu aktual terutama dalam bidang sosiologi, Ibn Khaldun telah meninggalkan beberapa buah karya tulis yang dapat dikaji dan dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya.
Tapi apabila dibandingkan dengan para pemikir terkemuka di kalangan kaum muslimin lainnya, maka Ibn Khaldun tampaknya tidak begitu banyak meninggalkan karya tulis. Hal itu disebabkan keterlibatannya Ibn Khaldun dalam dunia pilitik bahkan sebagain besar waktunya digunakan untuk beraktivitas politik, sehingga waktu yang dipergunaka untuk menulis sangat terbatas. Namun karyanya yang ada dan ditemukan sampai sekarang telah cukup mengantarkannya sejajar dengan ilmuwan-ilmuwan terkemuka lainnya. Adapun karaya-karayanya, yaitu:

a.    Muqaddimah

Kitab Muqaddimah ini sebenarnya adalah bagian pertama daripada karangannya yang panjang, yaitu kitab al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Ansharuhum min Dzamis Sulthani al-Akbar. Namun demikian sudah semenjak zaman Ibn Khaldun sendiri bagian pertama dari kitab al-‘Ibar itu selalu disebut secara terpisah dari al-‘Ibar itu dengan nama Muqaddimah. Bahkan nama kitab Muqaddimah itu lebih populer dari Kitab Sejarah Alam Semesta atau orang Barat dengan nama Universal History.

b.    Kitab al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Ansharuhum min Dzawis Sulthani al-Akbar.

Kitab ini sering juga disebut secara singkat saja dengan kitab al-‘Ibar. Kitab ini adalah karya besar Ibn Khaldun yang terdiri dari tujuh jilid. Kitab  ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d'Ibn Khaldoun . Kitab ini ini pun dijadikan dasar dalam ilmu sosiologi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern di tahun 1890, sehingga dia pun dijuluki sebagai Bapak Sosiologi Dunia.

Bagian pertamanya, sebagaiamana yang termaktub pada keterangan sebelumnya dikenal dengan nama Muqaddimah Ibn Khaldun. Bagian kedua teridiri dari empat jilid. Yaitu kedua sampai dengan jilid kelima. Sedangkan bagian ketiga terdiri dari dua jilid, yaitu jilid keenam dan ketujuh. Kitab al-‘Ibar ini juga dikenal sebagai kitab Sejarah Alam Semesta  atau Universal History.

c.    Al-Ta’rif bi Ibni Khaldun wa Rihalatuhu Gharban wa Syarqan

Kitab ini biasanya disebut secara singkat dengan al-Ta’rif yang merupakan autobiografi Ibn Khaldun sendiri. Di dalam al-Ta’rif itu Ibn Khaldun menuliskan riwayat hidipnya secara mendetail dan sempat direvisinya berpa kali hingga menjelang wafatnya.

Disamping ketiga buku tersebut diberitakan bahwa Ibn Khaldun juga menulis ringkasan kitab Muhashshal Afkâr al-Mutaqaddimin wa al-Mutaahirin, karangan Imam Fakhrudin ar-Razi tentang teologi. Ringkasan ini dinamainya dengan nama Lubab al-Muhashshal fi Usuluddin.

Diberitakan juga oleh Muhammad Abdullah Enan bahwa Ibnu Khladun juga mengarang sebuah kitab tentang tasawuf yang berjudul Syifâus Sâlil lit-Tahdzibil Masail.

Menurut Osman Raliby dalam bukunya Ibnu Khladun tentang Masyarakat dan Negara, beberapa tulisan Ibn Khaldun yang lain adalah: Risalah Tentang Afrika Utara yang dipersembahkan kepada Timur Lenk dan ditulis pada tahun 1461 M. Di samping itu dikatakan juga bahwa Ibnu Khladun pernah menulis beberapa ringkasan dari buku-buku karangan Ibnu Rusyd, uraian Kitab Burdah karangan al-Bushiri, yaitu kitab madah dan pujian-pujian terhadap Rasulullah dalam bentuk syair yang indah, Ibn Khaldun juga pernah menulis buku tentang logika dan buku tentang logika dan buku tentang dasar-dasar Ilmu Hitung.

2 comments for "Ilmu dan Klasifikasinya Menurut Ibnu Khaldun (Bagian 1)"

  1. ternyata julukan bapak sosiologi dimiliki oleh ibn khaldun ya. tambahan dari saya ilmu pengetahuan yang ada sekarang adalah perkembangan dari ilmu filsafat dimana pertanyaan2 mengenai hal yang belum diketahui dijawab oleh ilmu yg ada saat ini..

    ReplyDelete