Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pentingnya Muamalah Duniawiyah


Kemuliaan manusia diukur dari sejauh mana dia mampu membina hubungan baik secara vertikal dengan Allah SWT (hablun minallah) dan secaara horizontal dengan sesama manusia (hablun minannas). Bahkan Allah mengatakan bahwa manusia akan selalu dalam kehinaan jika tidak bias membina kedua hubungan tersebut. Hal ini tercantum dal QS. Ali Imran ayat 112 di bawah ini:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan”. (QS. Ali Imran [3]: 112)

Aspek hubungan sesama manusia (aspek muammalat) itu mencakup aturan tentang pergaulan hidup antar umat manusia di atas permukaan bumi ini. Misalnya bagaiamana pengaturan tentang benda, tentang perjanijan-perjanijan, tentang ketatanegaraan, tentang hubungan antar manusia dan lain-lain. Supaya terselenggara hubungan tersebut di atas dengan baik islam mengajarkan beberapa prinsip sebagai berikut:

1. Kehormatan manusia (karomah insniyah)

Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi yang brtugas memakmurkan bumi. Tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 30 yang artinya: “Ingatalah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senant di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engaku dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Seseungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah [2]: 30).

2.Kesatuan Umat Manusia

Manusia berasal dari satu keturunan yaitu dari Nabi Adam as. Oleh sebab itu manusia memiliki nilai kemanusiaan yang sama. Tidak ada kelebihan satu ras yang disbanding dengan ras yang yang lain. Yang menentukan nilai kemuliaan manusia di sisi Allah hanyalah ketaqawaannya. Hal tersebut tertera dalam QS. Al Hujurat ayat 13 yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang permpuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di anatara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sessungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat [49]: 13).

3. Kerjasama Umat Manusia

Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, harus dapat bekerjasam dalam kebajikan dan taqwa dengan manusia yang lainnya, dan tidak boleh bekerjasama dal berbuat dosa dan pelanggaran. Hal tersebut tercantum dalam QS. Al Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kabajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat besar siksa-Nya”. (QS. Al Maidah [5]: 2)

4. Toleransi

Tentunya tidak semua manusia mempunyai keinginan dan tujuan yang sama. Oleh sebab itu Islam mengajarkan bahwa sesorang harus dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbeda pendapat serta keinginan, tanpa harus memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain, dan sesorang juga harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Toleransi tidak bisa diartikan menyerah kepada kejahatan atau memberikan kesempatan kepada orag lain untuk berbuat jahat. Hal tersebut juga tertera dala QS. Ali Imran ayat 134 yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS. Ali Imran [3]: 134).

5. Kemerdekaan

Kemerdekaan mencakup kemerdekaan mengemukakan pendapat, kemerdekaan beragama, kemerdekaan menentukan nasib, kemerdekaan menetap di suatu tempat, kemerdekaan berpindah-pindah, kemerdekaan memiliki kekayaan dan lain sebagainya. Inti kemerdekaan adalah membedakan manusia dari perhambaan sesama manusia dan membebaskan manusia dari keterikatan kepada selain Allah SWT. Hal tersebut terdapat dalam QS. Al Baqarah ayat 256 yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agam (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah [2]: 256).

6. Keadilan

Keadilan pada intinya adalah meltakan sesuatu pada tempatnya. Keadlian juga dapat diartikan memberikan yang sesuai dengan haknya. Keadilan mencakup di antaranya adalah keadlian hukum, keadilan sosial, keadilan hubungan antar Negara. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu mengakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku tidak adil. Berlaku adilah, Karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Maidah [5]: 8).

7. Memenuhi janji

Salah satu ciri orang yang beriman adalah yang selalu menpati janjinya. Baik janji antar pribadi, antar kelompok maupun antar Negara. Setiap janji pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Hal tersebut tercantum dalm QS. Al Isra’ ayat 34: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al Isra’ [17]: 34).

8. Kasih Sayang dan Mencegah Kerusakan

Berkasih sayang dengan sesama makhluk ciptaan Allah termasuk binatang, dan tidak merusak alam lingkungan. Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah orang-orang yang ada di atas bumi, niscaya kamu akan dikasihi oleh Yang ada di langit”. (HR. Ahmad)

Hal-hal yang dapat merusak ukhuwah islamiyah yaitu disebutkan dalm QS. Al Hujurat ayat 11-12 berikut ini: “(11) Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian yang kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat [49]: 11-12).

Demikianlah beberapa hal yang bisa mempererat hubungan kita kepada sesame manusia. Allah selalu mengingatkan agar kita selalu menyeimbangkan kehidupan akhirat dan dunia. Salah satu usaha itu adalah dengan mempunyai muammalah duniawiyah yang baik kepada sesama. Wallahua’lam bisshawab.

Post a Comment for "Pentingnya Muamalah Duniawiyah"