Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anjuran dalam Membaguskan Akhlak dan Keutamaannya

Hadis 1


(٤٠٤۹/٢)- وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما : قال :لَمْ يَكُنْ رَسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم فَاحِشا ، وَلا مُتَفَحِّشا ، وكان يقول : إِنَّ مِنْ خِيَارِكم أَحْسَنُكُمْ أَخْلاقا. رواه البخاري ، ومسلم ، والترمذي .

Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a berkata: Tidaklah Rasulullah itu orang yang keji dan tidak pula orang yang berkata keji. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling di antara kalian akhlaknya.” HR. Bukhari, Muslim, Tirmizdi.

Syarah Hadis:

Hadis ini menegaskan bahwasnya Rasulullah saw adalah bukan orang yang keji dan bukan pula orang yang berkata keji, beliau adalah suri tauladan sepanjang masa bagi umat manusia sebagaimana dalam hadis lain dikatakan:

 لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

Artinya: “Sungguh dalam diri Rasulullah saw terdapat suru tauladan yang baik

Nabi pun mengatakan bahwasanya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Bukanlah suatu harta, jabatan, pangkat ataupun bagusnya fisik seseorang. Menurut Imam al-Ghazali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menmibulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedang secara etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluk yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Jelaslah bahwasnya akhlak itu suatu perbuatan yang muncul secara tiba-tiba atau spontan apakah itu baik atau buruk. Tentunya kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw sudah seyogyanya mengikuti akhlak suri tauladan beliau.

Pelajaran-pelajaran hadis:
  1. Rasulullah adalah suru tauladan bagi umat manusia.
  2. Anjuran untuk memperbaiki akhlak.      

Hadis 2

(٤٠٥٠/۳)- أبو الدرداء رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزانِ المؤمِنِ يَوْمَ الْقِيامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ ، وَإِنَّ اللَّهَ يَبْغُضُ الفَاحِشَ البَذيءَ. رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه، وقال الترمذي. حديث حسن صحيح. وزاد في رواية له: وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيبلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِب الصَّومِ، وَالصَّلاةِ. رواه بهذه الزيادة البزار  بإسناد جيد لم يذكر فيه: الفَاحِشَ البَذيءَ. ورواه أبو داود مختصرًا قال: مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ فِي الميزانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ.

Artinya: “Dari Abu Darda’ r.a berkata: Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Tidak ada satupun yang akan memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji lagi berkata keji (perkataan kotor). HR Tirmidzi dan Ibnu Hiban dalam sahihnya. Tirmidzi berkata hadis ini hasan sahih dan dia menambah riwayat pada hadis ini: Sesungguhnya orang yang memiliki akhlak yang baik sungguh sampai pada derajat orang yang puasa dan shalat. Bazar juga menambah riwayat dalam hadis ini dengan isnad yang baik yang tidak disebutkan di dalamnya lafadz الفَاحِشَ البَذيءَ. Dan Abu Dawud meriwayatakannya dalam kitab mukhtashar: Tidak ada satupun yang akan memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.”

Syarah Hadis

Islam mengajarkan untuk bertabiat baik alias berakhlak baik kepada sesama, orang yang keji lagi berkata keji (perkataan kotor) tidak masuk dalam kriteria hamba yang mukmin karena akhlak yang baik adalah sebagian dari kesempurnaan iman seseorang. Perkataan yang baik adalah yang disukai Allah swt, sebaliknya perkataan ang buruk adalah yang di benci-Nya. Perkataan baik ini tidak akan muncul selain hanya mengandung kebenaran dan manfaat. Kalau sekiranya seseorang mengetahui bahwa per-kataannya tidak akan membawa manfaat, bahkan akan menimbulkan mudharat atau bahaya, maka perkataan tersebut wajib ditinggalkan.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ. فاطر: ۱۰

Artinya: “Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuaian itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perktaan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” 

Sedangkan yang dimaksud dengan akan mencapai derajat orang yang berpuasa atau orang yang shalat dengan akhlak yang baik tidak semerta-merta  hanya kandungan maknanya itu saja. Tapi yang dimaksud adalah orang puasa sunnah dan orang yang shalat sunnah tahajjud.

Pelajaran-pelajaran hadis
  1. Anjuran untuk berakhlak baik.
  2. Anjuran untuk berkata perkataan yang baik.
  3. Ancaman dan azab bagi orang yang akan berbuat keji (kejahatan).

Hadis 3

(٤٠٥١/٤)- عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ فقال : تقوى الله وحسن الخلق، وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار؟ فقال : الفم والفرج. رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه والبيهقي في الزهد وغيره، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح غريب.

Artinya: “Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw ditanya tentang hal yang paling banyak memasukan manusia kedalam surga? Rasulullah saw menjawab: Taqwa kepada Allah, akhlak yang baik. Kemudian Rasulullah saw ditanya kembali tentang hal yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka? Rasulullah saw menjawab: mulut dan farji’ (kemaluan). HR. Tirmidzi dan Ibnu Hiban dalam sahihnya dan Baihaqi dalam bab zuhud dan selainnya, dan Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih gharib.”

Syarah Hadis:

Hadis ini menjelaskan tentang fadhilah dari akhlak yang baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Sesungguhnya Nabi saw ditanya tentang suatau hal yang paling banyak memasukan manusia kedalam surga? Yakni, hal apa yang menyebabkan hamba masuk surga? Maka Rasulullah saw menjawab: Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik, taqwa kepada Allah ta’ala adalah mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Pernah ada suatu riwayat yang menceritakan bahwa suatu hari sahabat Umar bin Khattab ditanya oleh seseorang tentang apa itu taqwa? Umar bin Khattab menjawab, “Taqwa adalah apabila kamu pernah berjalan di atas bara api”. Maksudnya adalah taqwa itu sifat kehati-hatian kita dalam melakukan segala perbuatan. Dalam al-Quran juga disebutkan tentang perintah taqwa ini:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران:١٠٢)

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan taqwa.”

Sedangkan hadis ini juga menjelaskan bahwa suatu hal yang banyak memasukan hamba kedalam neraka adalah mulut dan farji’, yakni kedua hal tersebut memang sangatlah rawan dalam berbuat maksiat. Dari mulut banyak manusia terlena akannya, jika tidak dapat mengontrol mulut akan berbuat ghibah, membicarakan tetangga yang tak semestinya ia lakukan, dari mulut juga sebenarnya manusia bisa mengamalkan kebajikan seperti mengucap salam ketika berpapasan dengan tetangga, berkata jujur dan mengcapkan kalimat-kalimat thayibah dalam berdzikir. Melalui farji (kemaluan) juga manusia bisa terperosok kedalam jurang neraka karenanya. Inilah yang paling dikhawatirkan dan paling rawan untuk berbuat maksiat (dosa), apalagi di kalangan muda-mudi yang mereka bergaul bebas bahkan sampai mengorbankan harga diri dan kehormatannya hanya karena didorong oleh nafsu syetan. Sebenarnya apabila seorang hamba mempunyai rasa sifat malu hal ini akan tercegah untuk berbuat perbuatan dosa. Seperti dalam sabdanya:

  الخياء لا يأتي إلاّ بخير

Artinya: “Malu tidak mendatngkan kecuali yang baik-baik”. HR. Bukhari

Pelajaran-pelajaran hadis:

  1. Perintah untuk taqwa kepada Allah
  2. Memberi peringatan bahwasanya segala perbuatan itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Diambil dari  kitab targhib wa al-tarhib

Post a Comment for "Anjuran dalam Membaguskan Akhlak dan Keutamaannya"